Djin Bun
mendirikan Kesultanan Demak, 1475-1518
Pada tahun 1928 ditugaskan oleh Pemerintah Kolonial
Belanda kepada Resident Poortman supaja menjelidiki: “Apakah benar bahwa Raden
Fatah Sultan Demak Jang Pertama adalah Orang Tionghwa?” Kemungkinan itu ditolak
oleh Profesor Schrieke. (Tjatatan; Ditolak pula oleh Dr. Hamka didalam bukunja
“Sedjarah Ummat Islam”). Akan tetapi
Orang Tionghwa di Semarang jakin, bahwa: Sultan Demak Jang Pertama adalah
seorang Tionghwa jang bernama “Djin Bun”. Orang jawa pun mengetahui nama
“Pangeran Djinbun” alias Raden Fatah, jang katanja seorang keturunan Radja
Modjopahit jang mendjadi Sultan Demak.
Resident Poorman selaku autodidactic Sinoloog mengerti,
bahwa: Djin Bun didalam Bahasa Tionghwa/Dialect Yunnan artinya “Orang Kuat”.
Resident Poormant the experienced History Detective, jang sudah memetjahkan
soal “Mythos Iskandar Zulkarnain Dynasty” mendjadi very clear Kesultanan
Kuntu/Kampar, terpaksa fikir² pandjang. Dia memeras otak, dimana mendapatkan
sesuatu sumber perihal “Djin Bun The Strong Man”. Didalam annals Tiongkok/ Ming
Dynasty, nama Djin Bun sama sekali tidak disebut. Mana ja??
Eureka!! Resident Poormant pergi ke Semarang. Di dalam
suasana Pemberontakan Komunis/1928, Resident Poortman di Semarang dengan
bantuan Polisi menggeledah of all places: Klenteng Sam Po Kong!! Tulisan²
Tionghwa jang disitu disimpan sedjak ± 400 @ 500 tahun, seluruhnja disita oleh
Resident Poormant. Tiga tjikar banjaknja!! Itu dia sumber² perihal Djin bun,
jang tidak diduga oleh siapa pun. Memang pandai Poormant selaku Detective
Sedjarah. Hasilnya sebagai berikut
1368 – 1645 : Di Tiongkok Pemerintah Ming Dynasty, jang
sangat banjak menggunakan Officials Orang orang Tionghwa Islam Hanawi dari Yunnan.
1403 – 1424 : Masa pemerintah Kaisar Tjeng Tsu, jang
disebutkan periode Yung Lo. Itulah masa-djaja dari Tiongkok di bidang maritim.
1405 – 1425 : Armada Tiongkok/Ming Dynasty dibawah
Laksamana Hadji Sam Po Bo menguasai perairan dan pantai Nan Jang (Asia
Tenggara).
1407 : Armada Tiongkok Ming Dynasty merebut Kukang Palembang yang sudah turun temurun mendjadi sarang perampok dari orang orang Tionghwa bukan
Islam dari Hokkian. Tjen Tsu Ji kepala perampok di Kukang, ditawan, dirantai,
dan dibawa ke Peking. Disitu dia mati dipantjung di depan umum. Berupa warning
untuk Orang orang Tionghwa Hokkian di seluruh Nan Yang. Di Kukang dibentuk
Muslim Hanafi Chinese community jang pertama di Kepulauan Indonesia. Tahun itu
djuga, didirikan satu lagi di Sambas Kalimantan.
1411 – 1416 : Lihat: §-8. Muslim Hanafi Chinese
communities dibentuk pula di Semenandjung Malaya, Di Pulau Djawa, dan di
Filippina. Di Pulau Djawa didirikan mesdjid masjid di Antjol/Djakarta,
Sembung Tjirebon, Lasem, Tuban, Tse Tsun Gresik, Djiaotung Djaratan,
Tjangki Modjokerto, dan lain lain lagi.
1413 : Armada Tiongkok Ming Dynasty selama satu bulan
singgah di Semarang untuk perbaikan kapal. Laksamana Hadji Sam Po Bo, Hadji
Mah Hwang, dan Hadji Feh Tsin, sangat sering datang sembahyang di Mesdjid
Tionghwa/Hanafi di Semarang.
1419 : Laksamana Hadji Sam Po Bo Menetapkan Hadji Bong
Tak Keng di Tjampa, untuk mengatasi flourishing Muslim/Hanafi Chinese
communities jang tersebar di pulau² seluruh Nan Yang. (Tjatatan diulangi oleh Tentara
Jepang, jang menempatkan Marshal Terautji di Saigon 1942 – 1945, untuk
mengatasi semuanja Djenderal Saikosikikan Djepang diseluruh Nanyo). Hadji
Bong Tak Keng menempatkan Hadji Gan Eng Tju di Manila Filippina, untuk
mengatasi Chinese Muslim/Hanafi communities di situ dan di Matan/Filipina.
1423 : Hadji Gan Eng Tju dipindahkan oleh Hadji Bong Tak
Keng dari Manila/Filippina ke Tuban/Jawa, untuk mengatasi fluorishing
Muslim/Hanafi Chinese communities di Pulau Djawa, Kukang, dan Sambas. Tuban di
waktu itu adalah Java’s main port, dengan Keradjaan Modjopahit selaku
Hinterland.
Terhadap Pemerintah Tiongkok/Ming Dynasty, Hadji Gan Eng
Tju mendjadi sematjam Consul Djenderal mengatasi semuanja Muslim/Hanafi Chinese
communities di nan Yang Selatan, termasuk Pulau Djawa, Kukang, dan Sambas.
Terhadap still existing but degenerated Keradjaan Modjopahit, Hadji Gan Eng Tju
mendjadi sematjam “Kapten Tjina Islam” di Tuban. Akan tetapi, karena armada
Tiongkok/Ming Dynasty menguasai seluruh pelajaran di perairan Nan Yang, maka
Hadji Gan Eng Tju de-facto mendjadi Kepala Pelabuhan pula di Tuban. Untuk
djasa²nja meladeni Kraton Modjopahit dari pelabuhan Tuban, Hadji Gan Eng Tju
diberikan gelar “A La Ya” oleh Keradjaan Modjopahit. Diberikan oleh Radja Su
King Ta, Radja Modjopahit 1427 – 1447.
Supposition: Hadji Gan Eng Tju aalah Ario Tedjo, dan
adalah Ajah dari Nji Ageng Manila jang lahir di Manila/Filippina.
1424 – 1449 : Jang Mulia Hadji Ma Hong Fu ditempatkan
mendjadi Duta Besar Tiongkok/Ming Dynasty di Kraton Modjopahit. Hadji Ma Hong
Fu adalah Putra dari War Lord Yunnan, dan adalah Menantu dari Hadji Bong Tak
Keng. Didalam perjalanan ke Kraton Modjopahit, Keluarga Hadji Ma Hong Fu
diantar oleh Hadji Feh Tsin, jang sudah tiga kali pernah berkunjung ke Kraton
Modjopahit selaku Roving Ambassador.
Supposition: Putri Tjampa adalah Isteri dari Hadji Ma
Hong.
1425 – 1431 : Laksamana Hadji Sam Po Bo mendjadi Gubernur
di Nanking, dan de-facto mendjadi Vice Roy Tiongkok Selatan berikut Nan Yang.
Di Mesdjid Tionghwa/Hanafi di Semarang diadakan Sembahyang Hadjat, disambung
dengan Do’a Selamat untuk Laksamana Hadji Sam Po Bo.
1430 : Laksamana Hadji Sam Po Bo sendiri merebut daerah
Tu Ma Pan di Djawa Timur, dan memberikan daerah itu kepada Radja Su King Ta,
Gan Eng Wan, Saudara dari Hadji Gan Eng Tju, mendjadi Gebernur Tu Ma Pa,
bawahan Keradjaan Modjopahit. Dialah Bupati jang pertama ber-Agama Islam, di
Keradjaan Modjopahit.
1431 : Laksamana Hadji Sam Po Bo wafat. Muslim/Hanafi
Chinese community di Semarang mendirikan Sembahyang Ghaib.
1436 : Hadji Gan Eng Tju pergi ke Tiongkok, menghadap
Kaisar Yang Yu. Tuban jang mengatasi Kubang, Tse Tsun, dan Sambas dilepaskan
dari Tjampa, dan mendjadi Chinese Crown Colony jang berdiri langsung dibawah
Gubernur Nanking. Kaisar Yang Yu memberikan kepada Hadji Gan Eng Tju, tingkatan
dan pakaian Mandarin Besar, lengkap dengan tanda pangkat berupa ikat pinggang
emas
.
1443 : Swan Liong (=Naga Berlian) Kepala Pabrik Mesiu di
Semarang ditempatkan oleh Hadji Gan Eng Tju mendjadi Kepala Tjina Islam di
Kukang jang sering diserang oleh badjak² laut Orang² Tionghwa jang bukan Islam.
Swan Liong seorang Perwira Artellery jang maha djitu, adalah seorang Peranakan
Tionghwa jang di Tjangki/Modjokerto dilahirkan oleh seorang Wanita Tionghwa
dayang². Swan Liong katanja sebenarnja adalah Putra dari Yang Wi Si Sa/ Radja
Modjopahit.
Tjatatan: Orang² Peranakan Tionghwa jang Ajahnja bukan Tionghwa,
biasanja diberikan nama jang terdiri atas tjuma dua syllables. Tanpa hereditary
first name, jang untuk Orang orang Tionghwa adalah family names. Orang orang peranakan
Tionghwa jang Ajahnya Tionghwa lengkap diberikan nama jang terdiri atas three
syllables.
Supposition: Swan Liong adalah Ario Damar. Yang Wi Si Sa
adalah prabu Waisesa/Radja Modjopahit jang satu lagi sebelum terachir.
1445 : Bong Swi Hoo diperbantukan kepada Swan Liong di
Kukang untuk on the job training. Bong Swi Hoo adalah seorang Tjutju dari Hadji
Bong Tak Keng di Tjampa. Tahun itu djuga, Bong Swi Hoo sudah dipertjajakan oleh
Swan Liong, pergi menghadap Hadji Gan Eng Tju supaja somewhere ditempatkan
mendjadi Kapten Tjina Islam.
1446 : Bong Swi Hoo singgah di Muslim/Hanafi Chinese
communitary di Semarang.
1447: Bong Swi Hoo di Tuban nikah dengan seorang putri
dari Hadji Gan Eng Tju.
Supporation: Bong Swi Hoo adalah Raden Rachmat gelar
Sunan Ngampel. Isteri dari Bong Swi Hoo adalah Nji Ageng Manila.
1447 – 1451 : Bong Swi Hoo ditempatkan oleh Hadji Gan Eng
Tju mendjadi Kapten Tjina Islam di Djiaotung/Bangil, jang terletak di muara
Sungai Brantas Kiri (=Kali Porong).
1448 : Bupati Gan Eng Wan (alias Ario Sugondo) mati
dibunuh. Daerah Tu Ma Pan lepas dari Keradjaan Modjopahit. Orang orang Tionghwa jang
ber-Agama Islam/Hanafi, kemudian selama setengah abad banjak mati dibunuh
Orang orang Tu Ma Pan, jang tetap ber-Agama Hindu/Djawa.
1449 : Jang Mulia Hadji Ma Hong Fu singgah di Semarang,
didalam perdjalanan kembali ke Tiongkok. Istri dari Hadji Ma Hong Fu sudah
wafat, dan dimakamkan setjara Islam di Modjopahit
1450 – 1475 : Karena Tiongkok/Ming Dynasty sudah merosot,
maka: Armada Tiongkok/Ming Dynasty tidak datang² lagi ke Muslim/Hanafi Chinese
comminitues di Nan Yang. Muslim/Hanafi Chinese communities itu pun turut
degenerated. Sangat banjak Mesdjid Tionghoa/Hanafi jang berubah mendjadi
Klenteng Sam Po Kong, lengkap dengan patung Demi God Sam Po Kong di tempat
mimbar, seperti di Semarang, Ancol, Lasem, dan lain lain
Setelah wafat Laksamana Hadji Sam Po Bo, Hadji Bong Tak
Keng, dan Hadji Gan Eng Tju, maka: Bong Swie Hoo terpaksa mengambil initiative
mengepalai deterioriating Musling/Hanafi Chinese communities di Pulau Djawa,
Kukang, dan Sambas. Tanpa hubungan dengan Tiongkok.
Bong Swie Hoo mengambil initiative pula: To switch-over
ke Bahasa Djawa, dan: memperkuat his deterioriating Muslim/Hanafi Chinese
communities dengan Orang² Djawa!! Akibatnya menentukan untuk Sedjarah Pulau
Djawa.
1451 : Tjampa jang beragama Islam/Hanafi direbut oleh
orang² ber-Agama Buddha, penduduk asli dari pedalaman, dari Sing Fun An (=Pnom
Penh). Bong Swie Hoo segera bertindak, Ja’ni: Bong Swie Hoo meninggalkan
deterioriating Muslim/Hanafi Chinese community di Djiaotung di muara Sungai
Brantas Kiri (=Kali Porong). Dengan tjuma sedikit pengikut Orang² Djawa jang
baru sadja dia Islamkan. Bong Swie Hoo mendirikan sesuatu Djavanese Muslim
communitiy di Ngampel di dekat muara Sungau Brantas Kanan (=Kali Mas).
Supposition: Maulanan Iskak jang bukan Orang Tionghwa,
dari semula mendampingi Bong Swie Hoo alias Raden Rachmat gelar Sunan Ngampel,
didalam usaha membentuk Javanese Muslim community di Ngampel.
1451 – 1477 : Bong Swie Hoo di Ngampel dengan leadership
jang maha besar memimpin pembentukan Javanese Muslim communities di pantai
Utara Pulau Djawa, dan di Pulau Madura. Selama dia di Ngampel, Muslim Hanafi
Chinese communitied jang masih ada di Tuban, Kukang, dan Sambas, tetap tunduk
kepada Bong Swie Hoo. Di Djiaotung, Mesdjid Tionghoa/Hanafi sepeninggal Bong
Swie Hoo berobah pula menjadi Klenteng Sam Po Kong.
1455 : Kota Djiaotung hilang/lenjap dilanda bandjir.
Tanpa Orang² Tionghwa Muslim/Hanafi muara kali Porong mendjadi sepi pelajaran.
Tjatatan: setengah abad kemudian, Orang orang Ternate
membangun kembali pelabuhan Djiaotung dengan nama Djoratan.
1456 -1474 : Swan Liong di Kukang membesarkan dua Orang²
Peranakan Tionghwa, jang djuga dilahirkan oleh Wanita² Tionghwa dayang², ja’ni:
Djin Bun (Orang Kuat) serta Kin San (=Gunung Mas). Djin Bun katanja sebenarnja
adalah Putra dari Kung Ta Bu Ni, Radja Modjopahit.
Supposition: Djin Bun adalah Raden Fatah/Sultan Demak
Jang Pertama. Kin San adalah Raden Hussin, teman sebaja dari Raden Fatah. Kung
Ta Bu Mi adalah Kertabumi/ Radja Modjopahit yang Terachir.
1474 : Didalam perdjalanan pergi menghadap Bong Swie Hoo,
Djin Bun serta Kin San singgah di Semarang. Djin Bun jang sangat iman teguh di
dalam agama Islam menangis melihat patung Sam Po Kong didalam Mesdjid. Djin Bun
mendo’akan bantuan Ilahi supaya dia kelak dapat mendirikan Mesdjid jang baru di
Semarang jang sepandjang zaman tetap Mesdjid.
1475 : Atas permintaan dia sendiri, Djin Bun ditempatkan
oleh Bong Swie Hoo di Daerah Tidak Bertuan di sebelah Timur Semarang. Selain
daripada dekat ke Semarang, tempat itu geopolitic dan ekonomi memang benar
dapat mendjadi penting: Kelak dapat menguasai shipping sepandjang pantai Utara
Pulau Djawa. Daerah kosong itu sangat subur pula, karena merupakan rawa² di
kaki Gunung Murio. Djin Bun menerima tugas dari Bong Swie Hoo, akan membentuk
sesuatu Javanese Muslim community, pengganti Chinese Muslim /Hanafi community
jang sudah murtad di Semarang.
Kin San diperintahkan oleh Bong Swie Hoo mendjadi Fifth
Column di Kraton Modjopahit, dimana sedjak Hadji Ma Hong Fu tidak ada lagi
sumber inside information untuk Fihak Tionghwa. Kin San pernah belajar
pyrotechniques dari Swan Liong. Dengan mertjon² bikinan dia sendiri, Kin San
lewat Tjangki/Modjokerto pergi ke Kraton Modjopahit. Kung Ta Bu Mi
bergembira/ria pasang² mertjon². Kin San segera diterima mendjadi Tukang Bikin
Mertjon di Kraton Mojopahit.
1475 – 1518 : Selama lebih 40 tahun, Djin Bun dengan
tangan besi memerintah di new emerging Keradjaan Islam Demak, sebelah timur
dari Semarang.
1477 : Djin Bun merebut kota Semarang dengan Tentara
Islam Demak jang hanja sekuat 1.000 orang, akan tetapi bersemangat Perang
Djihad, jang tidak gentar Mati Sjahid. Djin Bun mendahului ke Klenteng Sam Po
Kong, dan menghindarkan segala gangguan atas Klenteng itu. Djin Bun very wise
tidak menyembelih Orang² Tionghwa bekas Islam jang murtad di Semarang. Dia membutuhkan
mereka punja technical skill, terutama di bidang shipbuilding. Sebaliknja:
Orang² Tionghwa bukan Islam di Semarang, berdjanji akan mendjadi warga negara
jang patuh kepada Keradjaan Islam Demak.
Tentara Islam Demak dibawah commando Djin Bun sendiri, membumi
hangus sesuatu kampung Islam jang sedjak setengah abad sudah ada di Tjandi,
sebelah selatan Semarang.
Atas perintah Bong Swie Hoo, Raden Kung Ta Bu Mi/Radja
Modjopahit mengangkat Djin Bun dengan nama Pangeran Djin Bun, mendjadi Bupati
daerah Bing To Lo, berkedudukan di Demak. Djin Bun pergi menghadap ke Kraton
Modjopahit, dimana dia benar diakui Putra oleh Radja Kung Ta Bu Mi. Walaupun
Djin Bun selaku Muslimin hanjalah mau menjembah Tuhan Allah Ta’ala SWA, dan
selaku Bupati bawahan Keradjaan Modjopahit tidak pun mau menjembah Ajahnja
Radja Modjopahit.
Supposition: ± 1420 – 1477 di Tjandi/Semarang terdjadi
sesuatu Muslim comminity Orang² Kodja
Orang²
Persia dan Gudjarat), jang ber-Agama Islam/Mazhab Sji’ah. Memang benar bahwa:
Orang² Tionghwa Islam/Hanafi sama sadja seperti Orang² Turki/Islam/Hanafi,
sangat fanatic membasmi Agama Islam/Mazhab Sji’ah. Orang² Islam/Mazhab Sji’ah
boleh melewati Yunnan, akan tetapi harus memakai kopiah warna merah, dan harus
turun dari binatang tunggangannja. Di Semenandjung Malaya pun, Orang²
Islam/Mazhab Sji’ah diharuskan oleh Orang² Tionghwa/Islam/Hanafi mesti memakai
kopiah merah. Berupa survival, kebiasaan kopiah merah itu hingga ini hari
se-dikit² masih ada di sekitar Selat Malaka.

1478 : Bong Swie Hoo wafat di Ngampel, Djin Bun tidak
buang waktu pergi ke Ngampel, akan tetapi: Dengan Tentara Islam Demak, Djin Bun
pergi merebut pedalaman Pulau Djawa. Sedangkan Bong Swie Hoo seumur-hidupnja
tidak pernah mengizinkan penggunaan sendjata, terhadap Orang² Djawa jang masih
ber-Agama Hindu. Kembali dari Modjopahit, Djin Bun membawa Kin San ikut serta.
Harta/pusaka tanda kebesaran Keradjaan Modjopahit, sebanjak muatan 7 kuda²
diangkut ke Demak. Kung Ta Bu Mi ditawan Demak, dan oleh Djin Bun sangat hormat
diperlakukan selaku Ajahnja. Modjopahit tidak dibumi hangus, dan karena itu
diduduki kembali oleh Orang² Djawa jang bukan Islam.
Atas perintah Djin Bun, di Semarang didirikan Mesdjid
jang baru (Di tempat dimana hingga ini hari masih sadja berdiri Mesjid Besar
Semarang, di samping Alun² Lama).
1478 – 1529 : Kin San selama setengah abad mendjadi
Bupati Semarang. Sangat toleran mendjadi Bapak Rakjat, melindungi segala Bangsa
dan segala Agama. Gan Si Tjang seorang Putra jang murtad dari Mendiang Hadji
Gan Eng Tju, ditundjuk oleh Kin San mendjadi Kapten Tjina bukan Islam di
Semarang.
Kin San serta Gan Si Tjang segera membangun kembali
penggergadjian kaju djati dan galangan kapal, jang 3 generasi sebelumnja
didirikan olej Laksamana Hadji Sam Po Bo.
Supposition: Galangan kapal peninggalan Laksamana Hadji
Sam Po Bo itu, berdiri di tempat S.P.V. (=Semarangs Prauwen Veer) jang 1942 –
1945 dibangun kembali oleh Orang² Djepang mendjadi galangan kapal kaju. Kapal²
niaga dan kapal² perang Kesultanan Demak, adalah kapal² djung model
Tiongkok/Ming Dynasty, jang dapat memuat 400 orang² prajurit ataupun 100 ton
muatan. Dengan backing dari Orang² Tionghwa bukan Islam di Semarang, Kesultanan
Demak ± 1.500 sudah mendjadi saingan maritim dari Kesultanan Malaka.
1479 : Seorang Putra dan seorang bekas murid dari Bong
Swie Hoo datang me-lihat² di galangan kapal dan di Klenteng Sam Po Kong
Semarang. Berdua mereka tidak pandai Bahasa Tionghwa.
Supposition: Sunan Bonang dan Sunan Giri singgah di
Semarang, di dalam perdjalanan ke Mekkah atau sepulangnja.
1481 : Atas permintaan tukang² di galangan kapl, Gan Si
Tjang memohon kepada Kin San, supaja masjarakat Tionghwa bukan Islam di
Semarang boleh suka/rela turut kerdja/bakti menjelesaikan Mesdjid Besar Demak.
Dikabulkan oleh Djin Bun.
Sipposition: Wood constuctions dari Masjid Besar Demak
dibuat oleh tukang² kaju Orang² Tionghwa, jang sudah selama sepuluh abad sangat
ahli turun/temurun membuat kapal² djung. Tiang besar “Soko Tatal” memang benar
dibuat menurut conctruction dari sesuatu ships mast di zaman Tiongkok/Ming
Dynasty. Ja’ni: In utmost precition dibuat dari kepingan² kaju!! Very flexible
dan maha kuat tahan segala angin taifun di lautan.
1488 : Pa Bu Ta La seorang menantu dari Kung Ta Bu Mi
mendjadi Bupati Modjopahit jang ber-Agama Hindu, akan tetapi: Membajar Upeti
kepada Djin Bun di Demak. Peranan terbalik.
1509 : Yat Sun seorang Putra dari Djin Bun, mendampingi
Kin San di galangan kapal Semarang. Production diperlipat/ganda, karena Yat Sun
katanja hendak merebut Mao Lak Sa dengan armada Demak.
Supposition: Yat Sun adalah Sultan Junus/ Sultan Demak
Jang Kedua. Moa Lok Sa adalah Kesultanan Malacca.
1512 : Yat Sun sangat ter-gesa² menjerang Moa Lok Sa,
jang sudah direbut oleh Orang² Biadab Berambut Merah, dan jang mempunjai sendjata²
api djarak djauh
Orang²
Portugis).

1513 : Seorang bangsa Ta Tjuh bernama Dja Tik Su,
kapalnja rusak dan diperbaiki di galangan kapal Semarang. Dja Tik Su diantar
oleh Kin San serta Yat Sun ke Demak, dan dari situ Dja Tik Su tidak kembali lagi.
Kapal model Ta Tjih milik Dja Tik Su, ditiru olah Kin San untuk memperbesar
velocitas dari kapal² model djung Tiongkok jang benar dan besar akan tetapi
very cumbersome.
Supposition: Dja Tik Su adalah Djafar Sadik gelar Sunan
Kudus jang 1513 – 1546 sangat besar berdjasa: Retooling Agama Islam di
Kesultanan Demak, dari Mazhab Hanafi ke Mazhab Sjafi’i. Gelar Sultan dari
Sultan Demak Jang Pertama, bukannja diberikan oleh Sunan Ngampel jang wafat
pada tahun 1478, akan tetapi: Pada tahun 1513 diberikan oleh Sunan Kudus, jang
sempat mengenal dan menobatkan ke-tiga²nja Sultan² Demak. Bagaimana Laksamana
Ismail As Siddik pada tahun 1285 menobatkan Marah Silu mendjadi Sultan Malik Us
Saleh. Begitulah Mubaligh Djafar Sadik pada tahun 1546 menobatkan Djin Bun mendjadi
Sultan Al-Fattah. Berdua Ismail A Siddik dan Djafar Sadik adalah Ambassador
Plenipotentiary dan Kesultanan Mesir/Mamuluk Dynasty dan dari titulary
Chalifatullah Abbassiyah Dynasty.
1517 : Atas undangan dari Pa Bu Ta La, Orang² biadab dari
Mao Lok Sa datang berdagang dengan Orang² Modjopahit. Djin Bun dengan tentara
Demak kedua kalinja menjerang Modjopahit. Tjuma karena Isteri dari Pa Bu Ta La
adalah adik jang bungsu dari Djin Bun sendiri, maka: Pa Bu Ta La boleh tetap
Bupati di Modjopahit. Akan tetapi, Kota dan Kraton Modjopahit habis dirampas
oleh tentara Demak tanpa dilarang oleh Djin Bun.
1518 : Djin Bun wafat didalam usia 63 tahun
1518 – 1521 : Dengan membawa meriam² besar bikinan Kin
San serta kapal² model Ta Tjih, Yat Sun sekali lagi menjerang Moa Lok Sa. Yat
Sun wafat. Terdjadi hiru/hara succession di Demak. Pa Bu Ta La di Modjopahit
masalah gunakan kesempatan, selaku Radja Modjopahit mengadakan hubungan² dengan
Moa Lok Sa serta Kaisar Tiongkok.
Supposition: Meriam² besar fortifications artillery milik
Demak, seperti meriam keramat “Ki Amuk” di Banten, adalah buatan Orang²
Tionghwa bukan Islam di Semarang. Meriam² itu terlalu berat untuk kapal² Arab.
Sultan Junus dua kali tergesa²!!
1521 – 1546 : Tung Ka Lo, saudara dari Yat Sun, mendjadi
Radja Islam Demak.
Supposition: Tung Ka Lo adalah Sultan Trenggono.
1526 : Kin San jang udah tua karena dia pandai Bahasa
Tionghwa: Ikut/serta dengan Armada Demak jang pergi ke Barat untuk menundukkan
Orang² Tionghwa /Islam di Sembung.
1527 : Pa Bu Ta La wafat. Panglima Toa A Bo seorang Putra
dari Tung Ka Lo, dengan Tentara Demak menduduki Kraton Modjopahit. Putra² dari
Pa Bu Ta La tidak sadja mau masuk Islam, dan melarikan diri ke Pasuruan serta
ke Panarukan.
Supposition: Panglima Toh A Bo adalah Pangeran Timur, Putra
dari Sultan Trenggono jang very mysteriously hilang dari penulisan sedjarah.
1529 : Kin San wafat di dalam usia 74 Tahun. Djenazahnja
diantarkan ke Demak. Ikut/serta seluruh penduduk Semarang, Islam dan bukan
Islam.
1529 – 1546 : Muk Ming seorang Putra dari Tung Ka Lo,
menggantikan Kin San
Supposition: Muk Ming adalah Sunan Prawoto, jang terkenal
karena membunuh Pamannja supaja Ajahnja mendjadi Sultan.
1541 – 1546 : Dengan bantuan dari masyarakat Tionghwa
bukan Islam di Semarang, Muk Ming menjelesaikan 1.000 kapal² djung besar, jang
masing² dapat memuat 400 orang pradjurit². Tung Ka Lo hendak merebut pulau²
rempah² di Laut Timur. Orang² Tionghwa bukan Islam di Semarang, siang/malam
banting/tulang di galangan kapal.
Tjatatan: Galangan kapal di Semarang di waktu Kesultanan
Demak, adalah galangan kapal terbesar jang pernah ada di Asia Tenggara!!
Capacitas-nja dapat dihitung dari production Sunan Prawoto. Ja’ni: (1.000 x 100
: 60
±
1.600 ton per bulan. Galangan kapal jang terbesar di Republik Indonesia, masih
dibawah pimpinan Belanda hanja satu kali dapat menghasilkan 6 kapal² @ 700 ton
didalam djangka waktu lebih dua tahun. Capacitas-nja adalah (6 x 700 : 30
± 140
ton per bulan. Tidak pun sampai sepersepuluh (!!) dari capacitas galangan kapal
jang 400 tahun sebelumnja ada di Semarang.


Dari buku “Pengantar Sedjarah dan Adjaran Islam” karangan
Drs. Soebandi c.s. dapat dihitung bahwa: Sultan Trenggono 1546 menjerang
Pasuruan dengan Armada sebesar totaal (1.700 x 100
170.000
ton. Sedangkan armada-niaga KPM pun tjuma 120.000 ton. Entah berapa totaal
tonnage dari Armada Indonesia, Armada Pakistan, armada Filipinna, Armada India,
dll., silahkan tjari² sendiri.

1546 : Tung Ka Lo dengan Armada Demak menjerang ke
djurusan Timur. Tung Ka Lo wafat. Muk Ming naik tachta di Demak.
Tentara Dji Pang Kang merebut Demak. Dji Pang Kang adalah
djuga seorang tjutju Djin Bun. Perang saudara di Demak, terketjuali Mesdjid,
seluruh kota dan Kraton Demak Musnah.
Tentara Muk Ming terdesak mundur, dan bertahan di
galangan kapal di Semarang. Tentara Dji Pang Kang mengepung. Terketjuali
Klenteng dan Mesdjid, seluruh Kota Semarang termasuk galangan habis dibakar
oleh Tentara Dji Pang Kang jang sangat biadab. Muk Ming Wafat. Orang² Tionghwa
bukan Ialam sangat banjak terbunuh. Dja Tik Su menobatkan Putra dari Muk Ming
mendjadi Sultan Demak, dan ikut pula mati dibunuh.
Tentara Dji Pang Kang diserang pula oleh Tentara Peng
King Kang. Dji Pang Kang wafat. Peng King Kang mendirikan Keradjaan Islam di
pedalaman. Djauh dari laut dan tidak membutuhkan kapal².
Habis riwayat dari Radja² Islam turunan Tionghwa/Yunnan
di Demak, jang sedjak Djin Bun memerintah selama 71 tahun, selama tiga
keturunan. Tanpa Kin San, tanpa Yat Sun, tanpa Muk Ming, galangan kapal di
Semarang tidak dibangun kembali.
Sipposition: Dji Pang Kang adalah Ario Pinangsang, jang
ajahnja mati dibunuh oleh Sunan Prawoto. Peng King Kang adalah Djokotingkir
Adiwidjojo, Putra dari Ki Ageng Kebo Kenongo, jang dihulum mati oleh Sultan
Trenggono. “Kang” di dalam bahasa Tionghwa/Dialect Yunnan artinya “ Gubernur”.
Tjatatan: Karena tidak menggunakan Orang² Tionghwa bukan
Islam di Semarang, untuk membangun kembali galangan kapal peninggalan Laksamana
Hadji Sam Po Bo, maka: Kesultanan Padjang dan Kesultanan Mataram mendjadi
land-locked, dan tidak maritim. Peranan maritim jang berturut² dipegang oleh
Kesultanan²: Daya/Pasai. Samudera/Pasai, Malacca, dan Demak mendjadi
terpetjah/belah antara Kesultanan²: Atjeh, Djohor, Banten, Berunai, Ternate,
Tidore, Batjan, Sulu/Filippina, dan entah sangat banjak lagi. Sedjak tahun
1619, djatuh pula kedalam tangan Fihak
Belanda.
Retrospect
Hatsil/karja dari Resident Poortman jang begitu gilang
gemilang, atas permintaan dia sendiri: Tetap dirahasiakan oleh Pemerintah
Kolonial Belanda. Tersimpan didalam sesuatu “GZG/monogram, Uitsluitent Voor
Dienstgebruik Ten Kantore”
RSR,
hanja untuk dinas, tidak boleh dibawa ke rumah). Resident Poortman selaku
Pengawas PID
Polisi
Rahasia) berpendapat bahwa: Tidak boleh sedikit pun bertambah rumor-in-casa di
Pulau Djawa, didalam suasana Pemberontakan Komunis 1928 – 1930. Tidak boleh
pula sedikit pun dibikin gontjang kedudukan dari “Zelfbestuurders” (Swapradja)
di Pulau Djawa. Tidak boleh pula Orang² Tionghwa mendjadi besar kepala. Apakah
Profesor Schrieke tetap tinggal salah wessel, Resident Poortman tidak ambil
pusing Profesor².


Angka² Tahunan sanagt mudah reconstructed oleh Resident
Poortman, karena: Annal Klenteng Sam Po Kong Semarang memakai Tarich Klenteng
itu sendiri. Tarich Yung Lo dan Tarich Hijrah. Klenteng itu didirikan pada tahun
9 Tarich Yung Lo, katanja tahun 814 Tarich Hidjrah, 814/H = 1411/M.
Beberapa angka² Tahunan jang didapat oleh Resident
Poortman tidak sesuai dengan Angka² Tahunan jang sudah terlebih dahulu
diketahui. Enak sadja disesuaikan oleh Resident Poortman, jang tidak pernah
buang waktu “membelah rambut”. Umpamanja: Djin Bun merebut pedalaman Pulau
Djawa, terdjadi pada tahun 69 Tarich Klenteng Sam Po Kong Semarang, sama dengan
1479/M. Oleh Resident Poortman dianggap omission, dan corrected mendjadi 1478/M
jang sudah tradisional dari Tarich Aji Saka: “Sirna Hilang Kertaning Bumi” =
1400/ AS.
Resident Poportman sangat mudjur pula, mendapat kiriman
dari seorang Kapten Tjina di Djambi. Kiriman ini adalah copy dari buku “Moa
Tsai Pi Tjing Weng” = “Uraian Perihal Keradjaan Modjopahit. Report dari Ma Yung
Long, seorang Saudara dari Hadji Ma Hong Fu jang selaku kurir sering
mundar/mandir antara Kraton Modjopahit dan Tiongkok, di waktu Hadji Ma Hong Fu
masih Duta Besar Tiongkok/Ming Dynasty di Kraton Modjopahit, 1424 – 1449.
Terutama perihal Radja Su King Ta. Radja Modjopahit 1427 -1447, jang berkali²
sangat berat harus membayar upeti kepada Tiongkok.
Resident Poortman sendiri jakin, bahwa: Ario Damar,
Sultan Raden Fatah, dan Raden Hussin, adalah 50/50 peranakan Tionghwa/Modjopahit.
Dari fihak Tionghwa mereka mewarisi dedication, seumur/hidup suka
banting/tulang bekerdja terus siang/malam. Dari pihak Radja² Modjopahit mereka
mewarisi leadership and dignity. Entah pun hal itu setjara intuitive dimengerti
oleh Bong Swie Hoo alias Raden Rachmat gelar Sunan Ngampel, Putranja Sunan
Bonang, jang dilahirkan oleh Nji Ageng Manila, dan adalah 100% sepenuhnja
Tionghwa, tidak pernah ditonjol²kannja mendjadi Sultan di Pulau Djawa, Bravo
Bong Swie Hoo!
C. Sam Tjai Kong Di Kesultanan Tjirebon, 1552 – 1585
Resident Poortman fikir² lagi. Dia tidak pernah bertindak
separoh² sedjak dia pada tahun 1905 sendiri² mengatasi situasi di Tanah
Karo/Gunung, dimana Tjalon² Radja² Sibayak sedang asjik tembak-menembak dengan
bedil² pemburu. Dia sangat chawatir, entah seorang Belanda Sinoloog jang lain,
meniru dia menggeledah sesuatu Klenteng bekas Mesdjid pula.
Resident Poorman dengan bantuan Polisi, setjepat kilat
menggeledah Klenteng Sam Po Kong Antjol/Djakarta. Hasilnya: nihil!! Klenteng
Ancol berikut kampung Petjinan Laut di sekelilingnja, pada tahun 1712 pernah
dibumi-hangus atas perintah Gubernur Djendral Valcknenier. Pada tahun 1785
klenteng itu dibangun kembali, akan tetapi sedikit dipindahkan. Ja’ni: Kuburan²
Islam yang semula di luar Mesdjid mendjadi didalam Klenteng. Dari annal
Klenteng Sam Po Kong Semarang, Resident Poortman mengetahui bahwa: Pada tahun
1419 Laksamana Hadji King Wu Ping
dimakamkan di samping Mesdjid
Antjol/Djakarta.
Tjatatan: di dalam suasana Republik Indonesia, Klenteng
jang bekas Mesdjid di Antjol itu, dibiar²kan sadja hilang kedalam lumpur jang
dipompakan dari laut. Entah karena itu, generasi jang 1950 – 1970 berkuasa di
Indonesia, kelak akan dianggap generasi tolol. Sorry!!
Resident Poortman terpaksa putar haluan. What about Mesdjid
Sembung/Tjirebon, jang sangat banjak di-sebut² didalam annals Klenteng Sam Po
Kong Semarang?? Resident Poortman se-olah² electrified, mendengar dari dia
punja PID bahwa: Di Tjirebon ada kepertjajaan di kalangan penduduk Tionghwa
akan Demi God “Sam Tjai Kong”. Entah Sam Tjai Kong itu juga seorang Hadji di
zaman Tiongkok/Ming Dynasty, seperti Laksamana Hadji Sam Po Bo?? Sedangkan di
dalam annals Klenteng Sam Po Kong Semarang, nama dari seorang Laksmana Hadji
Sam Tjai tidak turut disebut. Lagi pula: “Tjai” bukannja Dialect Yunnan, akan
tetapi Dialect Hokkian.
Resident Poortman pergi ke Tjirebon. Sembung jang sangat
banjak di-sebut² didalam annals Klenteng Sam Po Kong Semarang, sedah mendjadi
pekuburan Islam tanpa Klenteng. Apa jang mau digeledah?? Dengan menggunakan his
PID, Resident Poortman mendapat inside information dari pihak Kraton Kasepuhan
Tjirebon, bahwa: Didalam Folklore Tjirebon sangat banjak di-sebut² Sembung,
Sarindil, dan Talang, selaku bekas tempat pertapaan Orang² Asing jang Islam,
sebelum Sunan Gunung Djati mendirikan Kesultanan Tjirebon.
Fihak Pengreh Prodjo tidak pun mengetahui, sesuatu
kelurahan maupun kampung kecil, jang bernama Sarindil. Djawatan Kehutanan
menulung. Sarandil adalah suatu complex hutan djati. Resident Poortman pergi ke
Sarindil. Sangat banjak kidang, No Klenteng, No Mesdjid, No nothing.
Talang adalah nama dari suatu bekas kampung Tionghwa,
jang permulaan Abad Ke-XX hampir seluruhnja habis terbakar. Ketinggalan sesuatu
Klenteng, jang katanja dilindungi oleh Sam Tjai Kong. Itu dia!! Talang sudah
mendjadi pabrik rokok milik British American. Di samping pabrik rokok itu,
benar ada an old and forgotten Klenteng. Orang² Inggris tidak pernah mengganggu
sesuatu Rumah Ibadat, entah pun dari Bangsa apa Agama apa. Sebaliknja: Karena
pada British American banjak orang Tionghwa, maka hingga malaise/1930 pimpinan
pabrik rokok itu setiap tahun memberikan setjukupnja wang dari fonds sosial
untuk maintenance Klenteng. Resident Poortman bukan Orang Inggris. Dia “Hoofd
Ambtenaar Belanda Kolonial”, jang menguasai PID. Resident Poortman dengan
bantuan polisi, menggeledah Klenteng di Talang. Hasilnja :
1415 : Laksmana Hadji Kung Wu Ping, keturunan dari Kung
Hu Tju (=Confusius), mendirikan menara mertju suar
lighthouse)
di atas bukit Gunung Djati. Dekat² kesitu dibentuk pula Muslim/Hanafi Chinese
communities, di Sembung, Sarindil, dan Talang. Masing² lengkap dengan Mesdjid.
Kampung Sarindil ditugaskan delivery of teak, untuk perbaikan kapal². Kampung
Talang ditugaskan meintenance pelabuhan. Kampung Sembung ditugaskan maintenance
lighthouse. Ketiga kampung² Tionghwa Islam/Hanafi itu, ditugaskan pula harus supply
bahan² makanan untuk kapal² Tionghwa/Ming Dynasty. Di waktu itu, daerah
Tjirebon masih kosong penduduk, akan tetapi: sangat subur karena terletak di
kaki gunung Tjeremai.

1450 – 1475 : Sama sadja seperti di pantai Utara Djawa
Timur dan Djawa Tengah, di daerah Tjirebon pun Muslim/Hanafi Chinese
communities sudah sangat merosot, karena putus hubungan dengan main-land
Tiongkok. Mesdjid di Sarindil sudah mendjadi pertapaan, karena: Masjarakat
Tionghwa/Islam/Hanafi disitu sudah tidak ada lagi. Mesdjid di Talang sudah
mendjadi Klenteng. Sebaliknja – Masjarakat Tionghwa/Islam/Hanafi di Sembung
sangat berkembang/biak, dan sangat ber-Iman teguh didalam agama Islam.
Supposition: Di waktu itu perkembangan di Sembung sama
seperti di Bagansiapiapi, Petani, dan Sambas. Ja’ni: In splendid isolation
Masjarakat Tionghwa tetap ber-Agama Islam Hanafi, dan tetap menggunakan Bahasa
Tionghwa untuk mengerdjakan Fardhu.
1526 : Armada serta Tentara Islam dan Demak, singgah di
pelabuhan Talang. Ikut serta seorang Tionghwa Peranakan jang Islam dan pandai
Bahasa Tionghwa, bernama Kin San. Panglima Tentara Demak
Syarif
Hidayat Fatahillah) serta Kin San, dari Talang pergi ke Sarindil dimana Hadji
Tan Eng Hoat, Imam Sembung, sedang bertapa. Bersama Hadji Tan Eng Hoat, Tentara
Islam Demak setjara damai masuk di Sembung. Atas nama Radja Islam di Demak,
Panglima Tentara Demak memberikan gelar kepada Hadji Tan Eng Hoat/Imam Sembung.
Bunjinja: “Mu La Na Fu Di Li Ha Na Fi”. Tentara Demak kembali ke kapal², dan
berlajar ke Barat. Kin San satu bulan mertamu pada Hadji Tan Eng Hoat.

Supposition: Sultan Trenggono memberikan gelar “Maulana
Ifdil Hanafi” kepada Hadji Tan Eng Hoat. Dengan demikian Djafar Sadik gelar
Sunan Kudus mengizinkan Hadji Tan Eng Hoat c.s. di daerah Tjirebon, tetap
ber-Agama Islam/Mazhab Hanafi dengan terus menggunakan Bahasa Tionghwa di dalam
Fardhu. Tidal dipaksakan harus switch ke Agama Islam/Mazhab Syafi’i, dimana
Fardhu harus didalam Bahasa Arab. Pandai Sunan Kudus!!
1552 : Panglima tentara Demak setelah seperempat abad,
datang lagi di Sembung. Sendiri² tanpa Tentara. Hadji Tan Eng Hoat sangat
heran². Panglima Tentara Demak katanja sudah bekas Radja Islam di Banten. Dia
sangat ketjewa, mendengar pembunuhan² di kalangan para keturunan Djin Bun di
Demak. Dia tidak pula mau tunduk kepada Sultan Padjang, karena di Kesultanan
Padjang: Agama Islam/Mazhab Syi’ah sangat berpengaruh. Bekas Panglima Tentara
Demak katanja seterusnja seumur hidup hendak bertapa di Sarindil.
Hadji Tan Eng Hoat mentjeriterakan bahwa: Masjarakat
Tionghwa/Islam di Sembung pun sudah sedjak 4 generasi, putus hubungan dengan
Yunnan jang Islam. Sebaliknja: Orang² Tionghwa keturunan Hokkian jang bukan
Islam, sudah sangat kuat di daerah Tjirebon. Hadji Tan Eng Hoat sendiri, adalah
keturunan Orang² Hokkian jang tjuma sangat sedikit mau masuk Islam.
Hadji Tan Eng Hoat meminta kepada Bekas Penglima Demak
supaja membimbing masjarakat Islam/Tionghwa di Sembung mendirikan sesuatu
Kesultanan seperti Djin Bun dahulu di Demak. Tidak ada djalan lain, untuk
mendjamin bahwa masjarakat Tionghwa di Sembung tetap tinggal Islam! Walaupun
Bahasa Tionghwa dan Mazhab Hanafi terpaksa dilepaskan sepertidi Demak.
Walaupun dia sudah tua, akan tetapi: Bekas Panglima
Tentara Demak; O/K.
1552 – 1570 : Dengan backing dari masjarakat
Tionghwa/Islam di Sembung, Bekas Panglima Tentara Demak mendirikan Kesultanan
Tjirebon, berpusat di tempat Kraton Kasepuhan jang sekarang. Sembung
ditinggalkan, dan mendjadi pekuburan Islam. Penduduk Sembung bojong sadesa, dan
dengan nama² Islam serta nama² Indonesia asli, settled di new emerging kota
Tjirebon. Sultan Tjirebon Jang Pertama tentulah Bekas Panglima Tentara Demak
sendiri. Dia segera membentuk Tentara Islam, dari bekas penduduk Sembung.
Orang² Tionghwa jang bukan Islam terpaksa tunduk kepada Tentara Tionghwa Islam
Tjirebon bentukan baru itu.
1553 : Supaja ada Fist Lady di new emerging Kesultanan
Tjirebon, maka Sultan Tjirebon Jang Pertama (jang sudah landjut usianja) nikah
dengan seorang Putri Hadji Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi. Dari
Sembung ke Kraton Tjirebon, “Putri Tjina” itu diberangkatkan dengan Upatjara
Kebesaran. Se-olah² dari Istana Kaisar² Tiongkok/Ming Dynasty di zaman
Laksamana Hadji Sam Po Bo. Dikawal oleh her young cousin, Tan Sam Tjai. Itu
dia!! Sam Tjai/the Wanted Person di dalam penjelidikan Resident Poortman.
Tjatatan: didalam hal make-believe memberangkatkan
seorang Pengantin Wanita, Orang² Batak djauh lebih parah lagi daripada siapa
pun di Indonesia. Dari rumah ke rumah di Menteng Pulo, katanja dari sesuatu
Keradjaan di Mandailing ke sesuatu Keradjaan di Sipirok. Horas/horas/horas.
Semua orang very happy, menunggukan Rendang Daging Kerbau jang djauh lebih enak
daripada Rendang Daging Sapi.
1553 – 1564 : Hadji Tan Eng Hoat alias Maulana Ifdil
Hanafi dengan gelar Pengeran Adipati Wirasendjaja, mendjadi Vice-Roy bawahan
Kesultanan Tjirebon, de-jure berkuasa sampai ke Samudera India, de-facto
berkedudukan nearby di Kadipaten. Dari situ dia sangat besar berdjasa
mengembangkan Agama Islam/Mazhab Syafi’i didalam Bahasa Sunda di pedalaman
Priangan Timur, sampai ke Garut.
1564 : Hadji Tan Eng Hoat wafat didalam military
expedition merebut Keradjaan Galuh jang ber-Agama Hindu. Djenazah dari Hadji
Tan Eng Hoat dikuburkan di daerah Galuh, diatas sesuatu pulau, didalam sesuatu
danau.
Tjatatan: nama dari danau itu tidak disebutkan di dalam
annals Klenteng Talang. Oleh Resident Poortman diduga salah/satu danau² ketjil,
jang jumlahnja sangat banjak di daerah Garut dan Tjiamis. Tidak sempat diselidiki
oleh Resident Poortman, karena: Dia sedang kalah bertengkar dengan Resident
Gobee perihal Putra² dari Singamangaradja XII, Pahlawan Nasional Indonesia.
1569 – 1585 : Tan Sam Tjai jang tidak pernah suka memakai
nama Muhammad Sjafi’i, dengan gelar Tumenggung Aria Dipa Wiratjula mendjadi
Menteri Keuangan Kesultanan Tjirebon. Tan Sam Tjai murtad!! Dia sangat setia
mengundjungi Klenteng Talang membakar hiu. Walaupun demikian Tan Sam Tjai
sangat besar berdjasa financially memperkuat Kesultanan Tjirebon, sehingga di
tetap maintained. Lagi pula: Tan Sam Tjai seperti Sultan Turki mendirikan
harem, tempat simpanan ratusan Gula² Kaki Dua, ja’ni: Istana Sunjaragi.
1570 : Sultan Tjirebon jang pertama wafat, dan digantikan
oleh putranja jang dilahirkan oleh putri Tjina. Karena Sultan Tjirebon jang
kedua masih muda/remadja, maka: Tan Sam Tjai de-facto menguasai Kesultanan
Tjirebon. Jang berani menentang powerful Tan Sam Tjai, hanjalah Hadji Kung Sem
Pak alias Muhammad Murddjani. Ja’ni seorang keturunan dari Laksamana Hadji Kung
Wu Ping, jang mendjadi pakuntjen (=Pendjaga Kuburan Sultan) bertempat tinggal
di Sembung.
1585 : Tan Sam Tjai wafat, termakan ratjun di harem
Sunjaragi. Djenazahnja ditolak oleh Kung Sem Pak dari pekuburan Pembesar²
Kesultanan Tjirebon di Sembung. Didalam hudjan lebat, terpaksa kembali ke
Tjirebon!! Atas perintah Isterinja
Nurleila
binti Abdullah Bazir Loa Sek Tjong), maka djenazah dari Tan Sam Tjai setjara
Islam dimakamkan di pekarangan rumahnja sendiri.

Walaupun dia dikubutkan setjara Islam, akan tetapi atas
permintaan penduduk Tionghwa jang bukan Islam, di Klenteng Talang diadakan pula
Upatjara Naik Arwah untuk mendiang Tan Sam Tjai. Namanja dituliskan dengan
Tulisan Tionghwa atas kertas merah, supaja disimpan di Klenteng Talang untuk
se-lama²nja. Tan Sam Tjai mendjadi Demi God dengan nama Sam Tjai Kong. Mendjadi
Saint jang mengabulkan do’a, djika dia tjukup dipudja dengan bakar² hiu.
Sonny boy, Kertas merah itu pada tahun 1938 diberikan
oleh Resident Poortman di Voorburg/Holland kepada Daddy untuk diantarkan ke
Ethnologisch Museum di Leiden. Entah pun kini masih ada di situ.
Retrospect
Syarif Hidayat Fatahillah
Sunan
Gunung Djati) selaku Sultan Banten Emeretus, di hari tuanja masih mau buang
tenaga mendirikan Kesultanan Tjirebon. Dengan demikian, Sunan Gunung Djati
bukan sadja menjelamatkan masjarakat Tionghwa/Islam/Hanafi di daerah Tjirebon,
akan tetapi: Menjelamatkan pula penduduk asli Priangan Timur, lepas dari
kemungkinan di-Kristen-kan oleh Fihak Portugis.

Marah Silu Dynasty jang timbul di Tanah Batak/Gajo, dan
1285 – 1409 memerintah di Kesultanan Samudera/Pasai, oleh Sunan Gunung Djati
dilanjutkan pula di Kesultanan Banten dan di Kesultanan Tjirebon. Sifat kepala
batu dari Orang² Batak digunakan oleh Tuhan Jang Maha Kuasa untuk mengebangkan
Agama Allah. Syukur Alhamdulillah, Allahu Akbar.
Resident Poortman kalah didalam pertengkaran contra
Resident Gobee. Putra² dari Singamangaradja/XII, Pahlawan Nasional Indonesia,
kembali ke Tanah Batak. Resident Poortman kembali ke Negeri Belanda, Luput
Klenteng² bekas² Mesdjid dari penggeledahan: seperti Klenteng² di Tuban, Lasem,
Gresik, Modjokerto, dan entah lain² lagi. Memang mesti ada batas². Walaupun
hasilnja gilang/gemilang untuk penjelidikan sedjarah setjara exact berikut
Angka² Tahunan, akan tetapi: Penggelegahan Klenteng tentulah tetap Pekerdjaan
Biadab!!
Walaupun dia Resident Kolonial Belanda, akan tetapi
Orang² Inggris di Tjirebon menolak Resident Poortman minum whisky bersama
mereka. Manusia jang oleh mereka dianggap “Orang Biadab Jang Menggeledah Rumah
Ibadat”. Benar pendirian Orang² Inggris itu!! Haraplah ahli² Sedjarah Indonesia
tidak akan pernah dengan kekerasan menggeledah Rumah² Ibadat, entah dari Agama
apa pun, Banga apa pun.
Tambahan
Kini Orang² Tionghwa jang ada di Pulai Djawa, adalah
99,9% keturunan Hokkian. Kelihatan dari their family names seperti: “Tan”,
“Lim”, “Oei”, “Ong”, “Tjia”, dlsb.
Sebelum tahun 1500 chususnja, dan di waktu Kesultanan
Demak umumnja, Orang² Tionghwa jang ada di Pulau Djawa semuanja keturunan
Yunnan dan Swatow, “Ma” dan “Bong” adalah family names Tionghwa dari Yunnan.
“Gan” adalah family name dri Swatow.
Orang Tionghwa/Hokkian jang pertama diketahui di Pulau
Djawa, adalah Hadji Tan Eng Hoat di Tjirebon. Dialah the mising link antara
orang² Tionghwa Yunnan Islam dan orang² Tionghwa Hokkian bukan Islam di Pulau
Djawa.
(Dikutip dari buku Tuanku Rao karya M.O. Parlindungan,
Lampiran XXXI, Tahun 1969,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar