Selasa, 04 Agustus 2020

DUA DINASTI DI KERAJAAN MATARĀM KUNA:





Kerajaan Matarām Kuna

Nama kerajaan tertua yang disebut dalam sumber prasasti di wilayah Jawa Tengah adalah kerajaan Matarām1 yang lebih dikenal sebagai kerajaan Matarām Kuna untuk membedakan dengan kerajaan Mataram Islam, dengan rajanya bernama Sanjaya. Prasasti tersebut adalah prasasti Canggal (654 Saka/732 Masehi), yang ditemukan di halaman percandian di atas gunung Wukir di Kecamatan Salam, Magelang. Prasasti Canggal memakai huruf Pallawa, berbahasa Sansekerta, dan mem- bicarakan raja Sanjaya yang beragama Siwa, yang mendirikan sebuah linga di bukit Sthīranga. Selain Prasasti Canggal, nama Sanjaya disebut di Prasasti Mantyasih yang dikeluarkan oleh Rakai Watukura Dyah Balitung tahun 907 Masehi. Dalam Prasasti Mantyasih terdapat daftar nama raja-raja yang memerintah di Medang (rahyangta rumuhun ri mdang ri poh pitu). Dalam daftar tersebut, Rakai Matarām Sang Ratu Sanjaya disebut pertama, yang kemudian diikuti oleh sederetan nama raja yang bergelar Śri Mahārāja (Soemadio II, 1993:100 dst). Rakai Matarām Sang Ratu Sanjaya dianggap sebagai pendiri dinasti Sanjaya (Sanjayavamśa) yang berkuasa di kerajaan Matarām. Namun penelitian yang merekonstruksi jalannya sejarah Matarām kuna, telah menghasilkan nama Śailendravamśa di samping Sanjayawamśa. Śailendrawamśa ditemui dalam beberapa prasasti, antara lain dalam Prasasti Kalasan (700 Saka/778 Masehi), Prasasti Kalurak (704 Saka/782 Masehi), Prasasti Abhayagiriwihara dari bukit Ratu Baka (714 Saka/792 Masehi),

Prasasti Kayumwungan (824 Masehi), dan sebagainya. Berita prasasti sangatlah penting untuk penelitian arkeologi, namun banyak- nya jumlah prasasti tidak menjamin dapat mengungkapkan data yang kita harapkan untuk diketahui. Misalnya perihal kerajaan Matarām Kuna masih banyak masalah yang belum terungkap
:
1. Siapakan pendiri Sanjayavamśa dan
siapakah pendiri Śailendrawamśa?

2. Ada berapa wangsa-kah di wilayah
Jawa Tengah periode Matarām
Kuna?

3. Benarkan raja kedua dalam daftar
Prasasti Mantyasih yaitu Śri
Mahārāja Panangkaran berganti
agama, yang semula beragama Siwa
beralih memeluk agama Buddha
Mahayana?

Dalam hal ini tidak akan dibicarakan lagi pendapat-pendapat tersebut, kecuali pendapat Boechari, yang mengemukakan hanya ada satu dinasti di Matarām Kuna, karena Rakai Panangkaran lengkapnya Rakai Panangkaran Dyah Śankhara Śri Sangramadhananjaya adalah anak Sanjaya yang berganti agama dari agama Siwa ke agama Buddha Mahayana. Pendapat Boechari ini berdasarkan pem bacaannya pada sebuah prasasti yang dipahat di atas batu dan dijadikan koleksi Bapak Adam Malik. Prasasti berbahasa Sansekerta ini bagian atas rusak sehingga tidak ada nama prasasti atau pun angka tahunnya. Boechari memberi nama prasasti Śankhara, sesuai dengan nama anak raja pada prasasti tersebut, dan usia prasasti diperkirakan antara Prasasti Canggal dan Prasasti Hampran (750 Masehi)
(Soemadio II, 1993:102-103).

Prasasti Śankhara pernah ditranskripsi dan di- terjemahkan oleh Boechari, tetapi belum diterbitkan.2) Secara garis besar Prasasti Śankhara membicarakan ayah Śankhara yang sangat patuh kepada gurunya, memberi “emas yang enam” kepada Śankhara dengan sebuah janji (?) yang harus dipenuhi. Kemudian ayah Śankhara jatuh sakit selama 8 hari kemudian meninggal. Melihat keadaan itu, Śankhara menjadi takut pada “guru yang tidak benar” lalu meninggalkan agama Siwa dan memeluk agama Buddha Mahayana. Menurut Boechari, ayah Śankhara adalah raja Sanjaya, sedangkan Śankhara sendiri adalah Rakai Panangkaran, ia memindahkan pusat kerajaannya ke timur. Letak ibu kotanya yang baru, kemungkinan di sekitar Sragen, di sebelah timur Bengawan Solo atau di daerah Purwodadi/Grobogan. Setelah itu ia membangun beberapa candi Buddha, yaitu candi Kalasan, Sewu, Plaosan Lor, dan sebagainya. Dari uraiannya tersebut Boechari telah mengidentifikasikan Panang- karan dengan “Śailendrawanśatilaka” yang disebut dalam beberapa prasasti, bahkan menurut Boechari, apabila Panangkaran identik dengan Śailendravamśatilaka, maka seperti yang tertera dalam Prasasti Nalanda, ia berputera Samaragravira dan Balaputra dewa, raja Sriwijaya, adalah cucunya (Soemadio II, 1993:109-110). Pendapat bahwa Rakai Panangkaran berpindah agama, menurut Boechari tertera dalam Prasasti Śankhara, khususnya bait 3n yang diawali dengan kalimat:

 So ‘yam tyaktānyabhaktir jagadaśi- vaharāc chamkarāc chamkarākhyah…

Terjemahannya sebagai berikut: “Ia, yang bernama Śankhara, setelah meninggalkan kebaktian kepada (dewa) yang lain, dari Śankhara yang melenyapkan ketidak tenteraman di dunia”3).



Pada dasarnya penulis setuju dengan terjemahan tersebut di atas, hanya ada sedikit perbedaan, sebagai berikut: “Ia yang bernama Śankhara, yang
kebaktiannya ke yang lain telah ditinggalkan, daripada Śankhara, Siwa yang menguasai dunia….”4) Dari terjemahan tersebut, penulis meragukan bahwa Śankhara berpindah agama, apalagi ke agama Buddha Mahayana. Pendapat ini diperkuat oleh syair pada bait 4, dikatakan setelah ia mendirikan prasāda untuk Dhātŗ, ia membicarakan moksa yang merupakan kebahagiaan tertinggi. Moksa diperoleh oleh para vratin (pertapa) yang suci melalui pengetahuan (jñāna), yang diperoleh dari puteri Dhātŗ (Saraswati ?).

 (śreyo moksān na param adhikam kathyate jñānavidbhir, moksās so’pi vratibhir anaghair labhyate jñānahetoh , tac ca jñānam vratibhir amalam
labhyate yat prasādād, dhatuh putrī janaya tu(s)tarām vanditā (n)ah kavitvam).

Konsep moksa tidak dipakai dalam agama Buddha. Demikian pula pada bait penutup selain Bhiksu dan Sanggha, disebut tokoh/ kelompok lain, yaitu puteri Dhātŗ, vratin, kulapati, raja (nrpatir) pelindung para Dasyu, sehingga dengan menyebut Buddha dan Bhiksu tidak menjamin raja beragama Buddha. Bagian ini sebagai penutup prasasti yang mendoakan semua yang disebut bernasib baik. Perlu dikemukakan disini, pada baris selanjutnya (pada bait 3) terdapat kata “anŗtagurubhayas”6) yang diartikan “takut pada guru yang tidak benar” (Soemadio II, 1993:109), kemungkinan terkait dengan janji Śankhara yang disebut pada awal-awal prasasti. Tidak jelas isi janjinya, kemungkinan Śankhara berjanji kepada guru mem- buatkan bangunan suci untuk Dhātŗ dengan “emas yang enam” itu sebagai biayanya, dengan harapan agar ayahnya sembuh?

Tetapi ketika ayahnya meninggal, Śankhara menyalahkan gurunya, yang disebut anŗtaguru-. Namun kemudian, karena takut pada gurunya, ia dengan kemauannya sendiri (svātmabuddhes) memenuhi janjinya dengan membuat prāsāda tersebut. Untuk memperkuat pendapat bahwa Panangkaran bukan raja dari dinasti Śailendra dan tidak beragama Buddha, akan penulis sampaikan terjemahan Prasasti Kalasan, prasasti berbahasa Sansekerta,
memakai huruf Pra-Nagari dari tahun 700 Saka/778 Masehi, sebagai berikut:

Namo bhagavatyai āryātārāyai
1. yā tārayatyamitaduhkhabhavādbhi
magnam lokam vilokya vidhivattrividhair
upayaih Sā8) vah surendranaralokavi
bhūtisāram tārā diśatvabhimatam
jagadekatārā

2. āvarjya 9) mahārājam dyāh pañcapanam
panamkaranām Śailendra rājagurubhis
tārābhavanam hi kāritam śrīmat

3. gurvājñayā kŗtajñais 10)
tārādevī kŗtāpi
tad bhavanam vinayamahāyānavidām
bhavanam cāpyāryabhiksūnām

4. pangkuratavānatīripanāmabhir
ādeśaśastribhīrājñah Tārābhavanam
kāritam idam api cāpy āryabhiksūnam

5. rājye pravarddhamāne 11)
rājñāh
śailendravamśatilakasya
śailendrarajagurubhis tārābhavanam
kŗtam kŗtibhih

6. śakanŗpakālātītair varsaśataih saptabhir
mahārājah akarod gurupūjārtham 12)
tārābhavanam panamkaranah

7. grāmah kālasanāmā dattah samghāyā
sāksinah kŗtvā pankuratavānatiripa
desādhyaksān mahāpurusān

8. bhuradaksineyam 13) atulā dattā
samghāyā rājasimhena śailendrarajabhūpair anuparipālyārsantatyā

9. sang pangkurādibhih sang
tāvānakādibhih sang tīripādibhih
pattibhiśca sādubhih , api ca,

10.sarvān evāgāminah pārthivendrān bhūyo
bhūyo yācate rājasimhah, sāmānyoyam
dharmmasetur narānām kāle kāle
pālanīyo bhavadbhih

11.anena punyena vīhārajena pratītya jāta

14)arthavibhāgavijñāh bhavantu sarve
tribhavopapannā janājinānām
anuś𝑎sanajñāh

12.kariyānapanamkaranah śrimān
abhiyācate bhāvinŗpān, bhūyo bhūyo
vidhivad vīhāraparipālan ārtham iti.

Terjemahan:
Hormat untuk Bhagavatī Ārya Tārā Setelah melihat mahluk2 di dunia yang
tenggelam dalam kesengsaraan, ia menyeberangkan (dengan) Tiga Pengetahuan yang benar, Ia Tarā yang menjadi satu-satunya bintang pedoman arah di dunia dan (tempat) dewa-dewa. Sebuah bangunan suci untuk Tārā yang indah benar2 telah disuruh buat oleh guru- guru raja Śailendra, setelah memperoleh persetujuan Mahārāja dyāh Pancapana Panamkarana Dengan perintah guru, sebuah bangunan suci untuk Tārā telah didirikan, dan demikian pula sebuah bangunan untuk para bhiksu yang mulia ahli dalam ajaran Mahāyana, telah didirikan oleh para ahli Bangunan suci Tārā dan demikian juga itu (bangunan) milik para bhiksu yang mulia telah disuruh dirikan oleh para pejabat raja, yang disebut Pangkura, Tavana,
Tiripa. Sebuah bangunan suci Tārā telah didirikan oleh guru-guru raja Śailendra di kerajaan Permata Wangsa Śailendra yang sedang tumbuh  Mahārāja Panangkarana mendirikan bangunan suci Tārā untuk menghormati guru pada tahun yang telah berjalan 700 tahun. Desa bernama Kalasa telah diberikan untuk Samgha setelah memanggil para saksi orang orang terkemuka penguasa desa yaitu Pangkura, Tavana, Tiripa. Sedekah “bhura” yang tak ada bandingannya diberikan untuk Sangha oleh “raja yang bagaikan singa” (rājasimha-) oleh raja-raja dari wangsa Śailendra dan para penguasa selanjutnya berganti-ganti. Oleh para Pangkura dan pengikutnya, sang Tavana dan pengikutnyam sang Tiripa dan pengikutnya, oleh para prajurit, dan para pemuka agama, kemudian selanjutnya,  “Raja bagaikan singa” (rājasimhah) minta berulang-ulang kepada raja-raja yang akan datang supaya Pengikat Dharma agar dilindungi oleh mereka yang ada selama-lamanya. Baiklah, dengan menghibahkan vihara, segala pengetahuan suci, Hukum Sebab Akibat, dan kelahiran di tiga dunia (sesuai) ajaran Buddha, dapat difahami. Kariyana Panangkarana minta berulang ulang kepada yang mulia raja-raja yang akan datang senantiasa melindungi vihara yang penting ini sesuai peraturan. Berdasarkan terjemahan prasasti tersebut, dalam Prasasti Kalasan terdapat dua orang raja, yaitu Śri Mahārāja Dyāh Pancapana Panamkarana dan raja Śailendravamsatilaka (permata wangsa Śailendra). Bahwa ada dua orang raja pada Prasasti Kalasan, telah dikemukakan oleh Van Naerssen (1947) dan J.G.de Casparis (1950). Menurut mereka, Rakai Panangkaran adalah raja bawahan raja
Śailendravamsatilaka, yang disuruh mem- bangun Tārābhavanam untuk raja Śailendra (Sumadio II, 1984:89-90).

Namun sebalik- nya, menurut pendapat penulis, justru Śailendravansatilaka-lah raja bawahan Panangkaran, dengan alasan sebagai berikut: Rakai Panangkaran bergelar “Śri Mahārāja”, sedangkan Śailendravam- śatilaka bergelar “rāja” saja Tārābhavanam didirikan “di kerajaan Śailendravamśatilaka yang sedang tumbuh/ berkembang” (5. rājye pravard
dhamane rājñah śailendravamśatila-kasya ….). Untuk mendirikan bangunan suci itu pun raja Śailendra mengutus guru-gurunya minta perkenan Śri Mahārāja dyāh Pancapana Panamkarana. Kalau Panangkaran raja bawahannya, mengapa ia harus minta ijin pada Panangkaran
terlebih dulu?

Usaha guru-guru itu disetujui oleh Panangkaran untuk tujuan
“gurupūjārtham” yang berarti “bertujuan menghormat Guru”. Dengan
demikian persetujuan Panangkaran untuk mendirikan Tārābhavanam adalah “untuk menghormat guru” (guru-pūjārtham) yang menghadap Panang-karan untuk minta perkenan mendirikan Tarabhavanam, dan bukan karena Panangkaran beragama Buddha Maha-
yana yang berkepentingan dengan pemujaan di Tārābhavanam tersebut. Bahwa seorang raja bawahan maupun rakyat tidak harus mempunyai agama yang sama dengan rajanya, dibuktikan
oleh banyaknya sisa-sisa candi Saiwa di sekitar candi Borobudur. 15)
Dari prasasti Kalasan ini kita ketahui raja Śailendravamśatilaka, mungkin baru datang atau baru mendirikan kerajaannya, dan menjadi raja bawahan Śri Mahārāja Panangkaran, seorang raja Sanjayavamśa., anak raja Sanjaya. Selanjutnya Raja Śailendravamśa- tilaka disebut dalam beberapa prasasti, yaitu 

Prasasti Kelurak (782 Masehi),
 Prasasti Abhayagirivihara di bukit Ratu Baka (792 Masehi),
Prasasti Kayumwungan (824 Masehi),
 Prasasti Ligor B (775 Masehi), dan
Prasasti Nalanda (abad 9).

   Dalam Prasasti Kelurak, Śailendravamsatilaka yang bergelar Śri Wirawairimathana (pembunuh musuh yang gagah berani), ia mendirikan sebuah bangunan suci untuk Mañjusri atau Mañjugosha, diresmikan oleh gurunya pendeta Kumaragosha yang datang dari Gaudidvipa. Bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Kelurak adalah candi Sewu, walaupun bukan bentuknya yang sekarang, karena candi Sewu dibangun tiga kali (Kusen, 1991-1992:57; Santiko, 2010). Rupanya raja Śailendravamśatilaka tahun 782 keadaannya sudah lebih baik Dari pada saat mendirikan Tārābhavanam di “grāma-kālasanāma--” tahun 778 Masehi. Pada Prasasti Nalanda dari raja Devapaladeva dari abad 9, kita jumpai nama Śailendravamśatilaka yang bergelar Śri Viravairimathana. Ia raja Jawa, berputera Samaratunga yang kawin dengan Tārā, anak raja Dharmasetu dari Somawamśa. Dari pernikahan ini lahirlah raja Balaputradewa, raja Sriwijaya, yang beragama Buddha, dan telah mendirikan sebuah vihara di Nalanda (Sumadio II, 1993:112).

Dengan adanya pendapat 2 dinasti di Jawa tengah, maka Samaratungga bukan anak Panangkaran, melainkan anak raja Śailendravamśatilaka yang memerintah di Jawa. Bagaimana kelanjutan hubungan keduadinasti raja tersebut, hingga kini berbagai penelitian masih mengikuti pendapat De Casparis tentang terjadinya hubungan pernikahan antara Rakai Pikatan (Sanjaya-vamśa) dengan Pramodhawarddhani, puteri Samarotungga (De Casparis 1956). 




Tinjauan Prasasti Kalasan
Hariani Santiko
Departemen Arkeologi FIB UI

. PRASASTI POH


 .

Prasasti Poh [poh=pauh, mangga, Magnifera] terdiri atas dua lempengan [lembar] tembaga, berukuran panjang 50 cm, dan lebar 20,5 cm. Tergali di desa Plembon, Kel. Randusari, Gondangwinangun, Klaten. Semula disimpan oleh Pangeran Hario Hadiwidjojo di Surakarta. Juga disebut prasasti Randusari I. Transkripsi [alih aksara] dan terjemahan selengkapnya di kerjakan oleh Dr. W. F. Stutterheim dalam buku Inscripties van Nederlandsch Indie, aflevering I [Kon. Bat. Genootschap van Kunsten en Wetenscappen, Batavia 1940], dengan judul ‘Oorkonde van Balitung uit 905 A. D. [Randoesari I].

Isi pokok prasasti sebagai berikut :
1. Menyebut nama raja Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung Sri Dharmmodaya
Mahasambhu,

2. Prasasti di tulis [ditatah] pada tahun 827 saka, bulan Srawana, tgl. 13 paro-terang [suklapaksa], paringkelan Paniruan [sadwara], pasaran Pon [pancawara], hari Budhawara [saptawara].
Kalimat selengkapnya berbunyi :
Swasti Sakawarmatita 827 srawanamama
tithi trayodasi. suklapaksa. paniruan. pon. budhawara.
Bahkan masih ditambah dengan letak planet di sebelah timur laut [purwwasadanaksatra],
nama dewata Aswi [aswidewata] dan nama yoga Wiskambha [wiskambhayoga]. Perlu dijelaskan disini bahwa sadwara yaitu minggu yang berhari enam, pancawara minggu yang berhari lima [pasaran], dan saptawara minggu yang berhari tujuh. Karena Budhawara berarti Rabu, dan Pon sama dengan pasaran pon sekarang, maka prasasti Poh ditulis pada hari Rabu Pon, tanggal 13 [trayodasi] bulan Srawana [Kasa, Juli-Agustus]. Unsur penanggalan [kalender] tersebut menurut perhitungan almarhum Louis-Charles Damais [sarjana Perancis bidang Epigrafi] bertepatan dengan tanggal 17 Juli 905 M.

3. Menyebut nama desa Poh yang ditetapkan oleh raja Balitung menjadi daerah sima [desa perdikan, daerah bebas pajak] untuk keperluan bangunan suci di Pastika [paknan yan sinususk caitya mahaywa silunglung sang dewata lumah i pastika].

4. Menyebut nama desa Mantyasih [baris 13 lempengan 1b], nama desa Galang [baris 6 lempengan 2b] dan nama desa Glangglang [baris 5, lempengan 2a].

5. Menyebut nama-nama desa lainnya, nama para pejabat, penduduk desa, dan pemberian hadiah [pasakpasak] baik kepada para pejabat tinggi maupun rakyat jelata. Juga disebut saji-sajian yang di gunakan dalam upacara manusuk sima [menetapkan sebuah desa menjadi daerah bebas pajak].


II. PRASASTI MANTYASIH I.
Tembaga Mantyasih terdiri atas dua lempengan tembaga berukuran panjang 49,3 cm dan lebar 22,2 cm. Sekarang disimpan di Museum Sriwedari [Radya Pustaka] Surakarta. Dalam sejarah juga terkenal bernama tembaga Kedu. Transkripsi dan terjemahan serta uraian lengkap pernah ditulis oleh almarhum Dr. W. F. Stutterheim [sarjana Belanda] dalam karangannya berjudul ‘Een belangrijke Oorkonde uit de Kedoe’ [dalam TBG, thn. 1927, hlm. 172-215]. Selain tembaga Mantyasih I juga pernah ditemukan prasasti batu yang disebut dengan Mantyasih II [dari Jawa Timur] dan juga selembar tembaga bertulis yang disebut Mantyasih III. Prasasti Mantyasih III berasal dari seorang penduduk desa Ngadirejo [Kedu] bernama Li Djok Ban dan sekarang tersimpan di Museum Jakarta. Prasasti Mantyasih I, II, dan III semuanya berasal dari raja Balitung [tahun 907 M].

Isi pokok prasasti Mantyasih I [yang paling lengkap] sebagai berikut :

1. Menyebut nama raja Rake Watukura Dyah Balitung.

2. Menyebut angka tahun 829 Saka, bulan Caitra [Kesanga, Maret-April], tanggal 11 paro-gelap, paringkelan Tungle, pasaran Umanis, hari Sanaiscara [Sabtu], bintang Purwwabhadrawada, dewa Ajapada, yoga Indra.
Dalam bahasa Jawa Kuno lengkapnya berbunyi :
Swasti Sakawarsatita 829 caitramasa. tithi akadasi krsnapaksa. tu. indrayoga.
Menurut perhitungan L. C. Damais tarih prasasti itu bertepatan dengan tgl. 11 April 907 M. [hari Sabtu Legi/Umanis].

3. Menyebut nama desa Mantyasih yang ditetapkan oleh Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung menjadi desa perdikan yang dipimpin oleh pejabat patih secara bergiliran [sima kapatihana]. Jumlah patih tersebut sebanyak 5 orang dan masing-masing mendapat giliran setiap 3 tahun [lawasnya tlung tahun sowang]. Nama para patih Mantyasih, ialah :
1. Pu Sna [ayah Ananta],
2. Pu Kola [ayah Dini],
3. Pu Punjeng
4. Pu Kara [ayah Labdha],
5.Pu Sudraka [ayah Kayut].
4. Menyebut hutan di gunung Susundara dan Wukir Sumwing [sekarang Sundara-Sumbing].
5. Alasan [sambandha] mengapa desa Mantyasih di tetapkan menjadi sima kapatihana, karena penduduk desa telah banyak berjasa kepada raja dan negara [sambandhanyan
inanugrahan sangka yan makwaih buatthaji iniwonya i sri maharaja], yaitu :
   
    A. Sewaktu Raja Balitung melangsungkan perkawinan [kala ni warangan haji],
    B. Penduduk Mantyasih mempunyai kewajiban melakukan kebaktian [memelihara, memperbaiki] bangunan suci atau candi di Malangkuseswara, Puteswara, Kutusan, Silabhedeswara [candi Selagriyo ?], dan Tuleswara setiap tahun [ing pratiwarsa]. Kalimat singkat dalam prasasti berbunyi :
lain sangke kapujan bhatara i malangkuseswara, ing puteswar, i kutusan, i silabhedeswara, i tuleswara, ing pratiwarsa.
  C. Penduduk Mantyasih di bawah pimpinan para patih mampu menghilangkan rasa takut penduduk Kuning Kagunturan dari gangguan para penjahat dan juga mengamankan jalan raya di daerah tersebut dari gangguan para perusuh [muang sangka yan antaralika katakutan ikanang wanua ing kuning. sinarabharanta ikanang patih rumakea ikanang hawan].
  D. Menyebut daftar nama [ur tan nama] raja-raja Mataram yang pernah bertahta di
Mdang di Pohpitu, yaitu :

1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya,
2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran,
3. S. M. Rakai Panunggalan,
4. S. M. Rakai Warak,
5. S. M. Rakai Garung,
6. S. M. Rakai Pikatan,
7. S. M. Rakai Kayuwangi,
8. S. M. Rakai Watuhumalang.


E. Larangan untuk para pemungut pajak [sang mangilala drabya haji] memasuki daerah Mantyasih karena telah ditetapkan menjadi daerah sima [swatantra].

F. Kutukan [sapatha] untuk siapa saja yang berani melanggar keputusan [s. k.] raja, misalnya akan menemui kesengsaraan, kalo masuk hutan akan di patuk ular berbisa [yan uamaraya ning alas hana ula umatukaya].



III. PRASASTI GILIKAN I.
Tempat temuan prasasti Gilikan tidak jelas. Demikian pula prasasti yang ditemukan juga tidak lengkap. Angka tahun dan nama raja tidak diketahui [karena tidak lengkap]. Sekarang tersimpan di Museum Jakarta. L. C. Damais menduga mungkin tembaga Gilikan I berasal dari jaman Raja Sindok sekitar tahun 924 M.

Isi pokok tembaga Gilikan I sebagai berikut :
1. Menyebut sebidang sawah seluas 4 tampah yang dijadikan ‘punya’ [persembahan suci] untuk Bhatara di Glam [lmah sawah punya sri maharaja sima bhatara i glam].

2. Kutukan kepada siapa saja yang berani menentang keputusan raja [pemerintah],

3. Menyebut pejabat wahuta [jabatan setelah patih], patih dan kepala desa [rama] desa Gilikan,

4. Menyebut Samgat Lua Pu Gunottama dan Samgat Pamasaran Pu Sandhya,

5. Kutukan [sapatha] kepada siapa saja yang berani melanggar peraturan pemerintah [sbit wtangnya].

Nama tempat [toponim] dalam Prasasti.
Sudah cukup jelas bahwa sumber prasasti menyebut beberapa nama desa [daerah] yang masih dikenal hingga sekarang. Tetapi harus diketahui bahwa luas wilayah [daerah] tersebut tidak harus tetap sama. Prasasti Poh menyebut nama desa Mantyasih, Galang dan Glangglang. Selanjutnya tembaga Mantyasih I menyebut nama desa perdikan Mantyasih dan Prasasti Gilikan I menyebut Bhatara di Glam.
Kalau disimpulkan maka ketiga buah prasasti tersebut menyebut nama desa :
a. Mantyasih,
b. Galang [rupa-rupanya sama dengan Glam],
c. Glangglang.

Apabila dilihat peta topografi [sheet 47/XL-C0] ternyata di kota Magelang terdapat atau terletak nama-nama desa seperti Magelang Pasar, Magelang Utara, Magelang Selatan, Magelang, Pelikan [Plikon], Dumpoh.
Meskipun peta topografi tidak menyebut nama Meteseh, tetapi di bagian barat kota Magelang [sebelah timur Kali Progo] sampai sekarang masih terletak kampung Meteseh [Kal./Kec./Kota Magelang]. Kampung Meteseh sekarang terdiri atas beberapa bagian [blok], yaitu :

1. Krajan,
2. Kidul,
3. Lor,
4. Tengah,
5. Jayengan.
Di daerah Surakarta sampai sekarang juga terdapat Desa Matesih. Tetapi sudah cukup jelas bahwa yang di maksud dengan Mantyasih pada jaman dahulu, sama dengan Mateseh di kota Magelang sekarang. Ini terbukti bahwa prasasti Mantyasih juga menyebut nama hutan di gunung Susundara dan Sumwing.

Demikian pula dalam prasasti Mantyasih juga disebut nama desa Wadung Poh [wanua i wadung poh] dan desa Kdu. Nama Wadung Poh kemudian disingkat menjadi Dung Poh, dan akhirnya berubah ucapannya menjadi Dumpoh [sebelah utara kota Magelang sekarang]. Demikian pula nama Kdu akhirnya berubah menjadi desa Kedu [sebelah utara Temanggung].
Selain itu juga disebut dalam prasasti bahwa desa Mantyasih yang dipimpin oleh 5 orang pejabat patih secara bergantian [setiap 3 tahun ganti pimpinan], juga mampu dan berhasil menghilangkan rasa takut [katakutan ikanang wanua ing kuning] dan mengamankan jalan raya [rumaksa ikanang hawan] desa Kuning Kagunturan. Menarik perhatian bahwa disebelah barat laut kota Magelang [Meteseh] sampai sekarang masih terletak desa Kembang Kuning dan Guntur [Kal. Rejosari, Kec. Bandongan]. Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut bahwa desa Kembang Kuning dan Guntur itulah yang dimaksud dalam prasasti Mantyasih.

Dengan demikian sudah cukup jelas bahwa yang dimaksud dengan Mantyasih bukannya Matesih di Sala [Surakarta], tetapi Mateseh di kota Magelang. Pendek kata nama Mantyasih sudah disebut dalam prasasti tahun 905 M dan 907 M.
Dari segi etimologi perkataan Mantyasih berasal dari kata Manti [panti, sangat, penuh] dan sih [cinta, kasih]. Dengan demikian nama Mantyasih [Mateseh] berarti ‘cinta kasih yang sempurna, penuh. Cf. serviam in caritato : pengabdian dalam cinta kasih, atau In omnibus Caritas : Dalam segalanya cinta kasih.

Selanjutnya nama Galang [Glam] dan Glangglang mungkin berubah menjadi Gelang atau Magelang sekarang [ awalan ma-]. Lebih-lebih apabila di ingat bahwa nama Galang [Glam] dan Glangglang memang disebut sejaman dengan nama Mantyasih. Memang kemungkinan nama itu lain berubah menjadi Gilang sekarang.
Dalam bahasa Jawa Kuno nama glang, galang berarti lingkaran [cf. mandala dengan lingga di tengahnya, atau gunung Tidar yang menjadi paku titik tengah Pulau Jawa], cemerlang [cf. bahasa bali : galang bulan : terang bulan].
Sudah saya terangkan dalam makalah pertama [18 Juni 1988] bahwa perkataan tidar berarti : sinar, pendadaran. Pertanyaan yang masih sulit di jawab yaitu nama Gilikan yang tidak [belum] diketemukan di daerah sekitar Magelang. Apakah nama itu berubah menjadi Pelikan, atau Plikon sekarang ? . Entahlah.

Berdasarkan data tersebut di atas maka hari jadi Magelang dapat di telusuri atau di teliti berdasarkan Prasasti Poh [17 Juli 905 M.] dan Prasasti Mantyasih [11 April 907 M.]
Identitas Daerah [Jatidiri]
Masalah jatidiri daerah Magelang masih dapat diteliti lebih lanjut. Tetapi berdasarkan data prasasti Mantyasih I setidak-tidaknya dapat diketahui bahwa penduduk Magelang [Mantyasih] sejak awal abad X Masehi [sekitar tahun 900 Masehi] sudah mempunyai identitas [jatidiri] yang cukup menarik dan patut di banggakan, yaitu :

1. Sifat setia dan bakti kepada pimpinan [Sri maharaja]
2. Berbakti kepada Tuhan [Bhtara di beberapa buah bangunan suci, candi]
3. Mampu mengamankan jalan raya [hawan] dan menghilangkan rasa takut penduduk Kuning Kagunturan.
4. Gunung Tidar di Magelang apabila di kaitkan dengan legenda atau kepercayaan penduduk melambangkan titik tengah atau pusat suatu daerah. Bahkan juga di anggap sebagai paku pulau Jawa.
5. Penduduk Mantyasih [Magelang] sejak jaman dahulu selalu berhubungan atau kontak dengan penduduk lain. Hal ini disebabkan letak Mantyasih [Magelang] di tengah-tengah jalan raya yang menghubungkan dataran tinggi Dieng [pusat ziarah, siddhayatra atau tirthayatra] dengan daerah di Jawa timur [Pranaraga]. Jalan raya itu rupa-rupanya membentang antara dieng, Wonosobo, Parakan, Magelang, Yogyakarta, Prambanan, Wonogiri dan Ponorogo [Pranaraga].


PRASASTI MANTYASIH I







Prasasti Mantyasih I

 (JTG829a) (Stutterheim, 1927: 175-183)

Prasasti ini terdiri dari tujuh baris dan di keluarkan pada tahun 829 caka atau 907 M  Inti dari Prasasti Mantyasih adalah pemberian anugerah kepada para
patih yang memiliki jasa besar kepada kerajaan. Para patih-patih tersebut
mendapat anugrah dan tanah perdikan yang berada di wilayah Matyasih,
sekitar lereng gunung Sindoro dan Sumbing




1. swasti śakawarṣātīta 829 caitra māsa. tithi ekādaśi kṛṣṇapakṣa. tu. u.
śa. wāra. purwwabhadrawāda nakṣatra. ajamāda dewatā. indra yoga.
tatkāla ājña śrī mahārāja rakai watukura dyaḥ balituŋ śrī dha

2. rmmodaya mahāsambhu. umiŋsor i rakarayān mapatiḥ i hino. halu.
sirikan. wka. halaran. tiruan. palarhyaŋ. maŋhuri. wadihati. makudur.
kumonnakan nikanaŋ wanua i mantyāsiḥ winiḥ ni sawaḥnya satu.
muaŋ a

3. lasnya i muṇḍuan. i kayu pañjaŋ. muaŋ pomahan iŋ kuniŋ wanua
kagunturan pasawahanya ri wunut kwaiḥ ni winiḥnya satu hamat 18
hop sawaḥ kanayakān. muaŋ alasnya i susuṇḍara. i wukir sumwiŋ.
kapua wa

4. tak patapān. sinusuk sīmā kapatihana. paknānya pagantyagantyana
nikanaŋ patiḥ mantyāsiḥ sānak lawasnya tluŋ tahun sowaŋ. kwaiḥ
nikanaŋ patiḥ sapuṇḍuḥ pu sna rama ni ananta. Pu kolā rama ni diṇī.
pu puñjěŋ

5. rama ni udal. pu karā rama ni labdha. pu sudraka rama ni kayut piṇḍa
prāṇa 5 maṅkana kwaiḥ nikanaŋ patiḥ inanugrahān muaŋ kinon ta ya
matuta sānak // samwandhanyan inanugrahān saŋkā yan makwaiḥ
buatthaji

6. iniwönnya i śrī mahārāja. kāla ni waraṅan haji. lain saṅke kapujān
bhaṭāra i malaŋkuśeśwara. iŋ puteśwara. i kutusan. i śilābhedeśwara. i
tuleśwara. iŋ pratiwarṣa. muaŋ saŋka yaŋ antarālika kataku

7. tan ikanaŋ wanua iŋ kuniŋ. sinarabhārānta ikanaŋ patiḥ rumakṣā
ikanaŋ hawān. nahan mataunyan inanugrahān nikanaŋ wanua kālih
irikanaŋ patiḥ . . .

Terjemahan bebas:
 Selamat tahun saka yang telah berlalu 829 tahun hari sabtu legi,
paringkelan Tunglai, tanggal 11 paro gelap bulan Caitra,
Naksatranya Purwwabhadrawada, dewatanya Ajapada, Yoganya
Indra, ketika perintah Sri maharaja Rakai Watukura Dyah balitung Sri
Dharmmodaya Mahasambhu, turun kepada Rakryan Mahapatih i Hino,
Halu, Sirikan, Wka, Halaran, Tiruan. Palarhyang, Manghuri,
Wadihati, Makudur, yang memerintahkan agar desa di Mantyasih
yang benih sawahnya sebanyak tu, dan hutannya di Munduan, di Kayu Panjang, dan di perumahannya di  Kuning Desa Kagunturan, persawahannya di Wunut yang benihnya
sebanyak sat utu, 18 hamat termasuk sawah milik Nayaka, serta  hutannya di Gunung Sindoro, di Gunung Sumbing semuannya masuk wilayah Patapan, dibatasi menjadi sima bagi para Patih, dimaksudkan untuk digunakan bergantian oleh Patih di Mantyasih dan keluarganya masing-masing tiga tahun lamanya. Banyaknya patih yang barkaitan yaitu Pu Sana rama (kepala desa) dari Ananta, Pu Kola rama dari Dini, Pu Punjeng rama dari Udal,Pu Kara rama dari Labdha, Pu Sudraka Rama dari Kayut jumlahnya 5 orang, demikianlah banyaknya Patih yang dianugerahi dan disuruhlah ia menyertakan keluarganya.

Alasannya dianugerahi karena mereka banyak melakukan buatthaji sebagai kecintaan kepada Sri Maharaja ketika pesta pernikahan raja, selain itu juga melakukan pemujaan kepada Bhatara di Malangkuseswara, di Puteswara, di Kutusan, di Silabhedeswara, di
Tuleswara, setiap tahun dan karena ada perubahan menjadi rasa ketakutan penduduk desa di Desa Kuning, Patih itu dipercayai menjaga jalan, itulah sebabnya kedua desa tersebut dianugerahkan kepada Patih.


sumber balai arkeologi nasional

GARIS KETURUNAN SANJAYA DARI SILSILAH PRABU SURAGHANA



     Dari Silsilah Prabu Suraghana / Rahyang Mandiminyak (Prabu Mandiminyak). Prabu Suraghana / Rahyang Mandiminyak selaku Raja ke-2 Kerajaan Galuh.
Nama Asli : Sang Jalantara Rahyang Mandiminyak Gelar : Suradharmaputra Memerintah pada trahun. 702 - 709 M. Menikah dengan Dewi Wulansari memiliki anak bernama Rahyang Sena / Sang Sanna / Bratasena. Pada tahun 695 M menikah dengan Dewi Parwati (Anak dari Kartikea Singha & Ratu Sima) atas Kerajaan Kalingga & memiliki anak bernama Dewi Sanaha.
Tahun 702 M Sang Jalantara Rahyang Mandiminyak / Prabu Suraghana Gelar : Suradharmaputra naik Tahta Raja atas 2 Kerajaan :
1. Kerajaan Galuh
2. Kerajaan Kalingga Utara & Selatan / Jawa Tengah & Jawa Timur.

 Jika ditarik Silsilah ke atas. Wretikandayun sebagai Raja - 1 atas Kerajaan Galuh.
Dinobatkan Tahun 612 M kemudian menikah dengan Dewi Candraresmi (Dewi Manawati) & memiliki 3 orang anak, yaitu :
1. Semplakwaja Th. 620 M
2. Jantaka Th. 622 M
3. Mandiminyak Th. 624 M

Semplakwaja & Jantaka tidak menjadi penerus Raja karna cacat badan. Semplakwaja menjadi Rajaresi di Galunggung dg Gelar Batara Danghyang Guru. Jantaka menjadi Resiguru di Telaga Denuh dengan Gelar Resiguru Wanayasa / Rahiyang Kidul. sehingga yang naik Tahta adalah Rahyang Mandiminyak / Prabu Suraghana (Prabu Mandiminyak) Disebut Mandiminyak karna ganteng berkulit kuning langsat & pandai merayu.
Semplakwaja menikah dengan Pohaci Rabubu yang berasal dr Gunung Kendan (Rancaekek)
Terjadilah skandal antara Prabu Mandiminyak dengan Pohaci Rabubu (Istri dr Semplakwaja / Kakak pertama Prabu Mandiminyak) & dari hubungan skandal itu, Pohaci Rabubu hamil & kemudian Tahun 661 M lahir seorang anak laki laki yang diberi nama Sanna / Sena / Bratasenawa.
Sanna : Sang Salah Sang Anak (Sanna / Sena / Bratasenawa) sempat dibuang di tegalan namun diselamatkan kembali.

Leumpang Pwah Rabubu ka Galuh
Aing dititah ku Rahiyang Semplakwaja mwatkeun budak eta
Beunang siya ngeudeungeudeu aing teh
Berjalanlah Pwah Rabubu ke Galuh
‘’Aku disuruh Rahyang Semplakwaja menyerahkan anak ini Akibat kamu menyentuhku’’.

Prabu Mandiminyak disingkirkan oleh Ayahnya (Wretikandayun) & dinikahkan dengan Dewi Parwati (Putri dari Ratu Sima atas Kerajaan Kalingga Utara - Jawa Tengah) & tinggal di Kalingga Utara - Jawa Tengah.pernikahan Prabu Mandiminyak dengan Dewi Parwati lahirlah Dewi Sanaha. Kelak dikemudian hari Dewi Sanaha (Anak Prabu Mandiminyak dengan Dewi Parwati) dijodohkan dengan Sanna / Sena / Bratasenawa (Anak Prabu Mandiminyak dengan Pohaci Rabubu) pernikahan  sedarah itu pada tahun. 683 melahirkan seorang anak yang diberi nama Sanjaya.
Pada tahun. 695 M Prabu Mandiminyak menjadi Penguasa Kalingga Utara - Jawa Tengah. Dan setelah Ratu Sima wafat, Kerajaan dibagi 2 :
1. Sebelah Utara disebut BUMI MATARAM
2. Sebelah Selatan & Timur disebut BUMI SAMBHARA & diperintah oleh Narayana (Adik Parwati)

 Prabu Mandiminyak sebagai Raja Galuh ke-2 digantikan oleh Sanna / Sena / Bratasenawa (Anak Prabu Mandiminyak dengan Pohaci Rabubu).
Th. 709 M Prabu Mandiminyak wafat & Sanna / Sena / Bratasenawa naik Tahta atas :
> Kerajaan Galuh Jawa Barat.
> Kerajaan Mataram Kuno / Medang Jawa Tengah.
Saat pengangkatan Sanna / Sena / Bratasenawa sebagai Raja Galuh ke-3, tidak diterima oleh Purbasora (Anak Semplakwaja dengan Pohaci Rabubu) & bersiap melakukan penyerangan.namun diketahui oleh Sanna / Sena / Bratasenawa
 Semplakwaja menikah dengan Pohaci Rabubu, dikaruniai 2 orang anak :
1.Rahyang Purbasora Th.670M
2.Rahyang Demunawan Th.673M

 Saat Purbasora & Demunawan akan melakukan penyerangan ke Kerajaan Galuh. Sanna / Sena / Bratasena mengundang pasukan Sunda untuk  menghadapi Purbasora. Purbasora yang mengetahui hal itu meminta dukungan kepada Ki Balagantrang (sepupu Purbasora) & Pasukan dari Kuningan. Akhirnya pada tahun.716 M Purbasora dapat menguasai Kerajaan Galuh & Sanna / Sena / Bratasenawa melarikan diri ke Kalingga Utara - Jawa Tengah (ditempat Ibunya yaitu Dewi Parwati selaku Raja) tahun 716 M Purbasora naik Tahta atas Kerajaan Galuh ke-4 dlm usia 73 Th dg Gelar Prabu Purbasora Jayasakti Mandraguna bersama Istri Permaisurinya bernama Citra Kirana.
Putra dari Sanna / Sena / Bratasenawa dengan Sanaha bernama Sanjaya menaruh dendam kepada Prabu Purbasora & ingin merebut kembali Kerajaan Galuh dengan merencanakan untuk membunuh Prabu Purbasora. Pada tahun 737 M Sanjaya menyusun kekuatan di Gunung Sawal & menjadi Markas untuk persiapan melakukan penyerbuan ke Kerajaan Galuh. tahun 747 M Sanjaya beserta pasukannya menyerbu Kerajaan Galuh hingga Prabu Purbasora terbunuh. lalu menghancurkan Indraprahasta (Istri Prabu Purbasora berasal)

Setelah Prabu Purbasora wafat. Sanjaya naik Tahta sebagai Raja Galuh ke-5 dengan Gelar Maharaja Harisdarma Bimaparakrama / Prabu Maheswara Sarwajitasatru Yudapurnajaya & tinggal di Pakuan sebagai Ibu Kota Kerajaan Sunda. Istri permaisuri bernama Sekar Kancana dg Gelar Teja Kancana Ayu Purnawangi.
 Jayasingawarman pendiri Tarumanagara 358-382 adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada Setelah Jayasingawarman mendirikan Tarumanagara, pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumanagara. Salakanagara kemudian berubah menjadi Kerajaan Daerah. Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati (Bekasi).

Dharmayawarman (382 - 395 M) Dipusarakan di tepi kali Candrabaga.
Purnawarman (395 - 434 M) Ia membangun ibukota kerajaan baru dalam tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai dan dinamainya "Sundapura". Nama Sunda mulai digunakan oleh Maharaja Purnawarman dalam tahun 397 M untuk menyebut ibukota kerajaan yang didirikannya. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159 - 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbalingga?) di Jawa Tengah. Secara tradisional Ci Pamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.

Wisnuwarman (434-455)

Indrawarman (455-515)

Candrawarman (515-535 M) Pada tahun 535 M terjadinya Meletus Gunung Krakatau yang sangat dasyat yang menyebabkan tsunami yang sangat besar dan berdampak pada seluruh dunia
Suryawarman (535 - 561 M) Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan yang terkenal dengan Kerajaan Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Sedangkan putera Manikmaya, tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit 

Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.
Kertawarman (561 - 628) Rakeyan Sancang (lahir 591 M) putra Raja Kertawarman (Kerajaan Tarumanagara 561 – 618 M). Raja Suraliman Sakti (568 – 597) putra Manikmaya cucu Suryawarman Raja Kerajaan Kendan adalah saudara sepupu Rakeyan Sancang
Sudhawarman (628-639)
Hariwangsawarman (639-640)
Nagajayawarman (640-666)
Linggawarman (666-669) Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Dalam tahun 669, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapunta Hyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya.

Tarusbawa (669 – 723 M) Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa Tarumanagara yang ke-13. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman zaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda.
Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, cicit Manikmaya, untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari kekuasaan Tarusbawa. Karena Putera Mahkota Galuh (Sena, Sanna atau Bratasena) berjodoh dengan Sanaha puteri Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga, Jepara, Jawa Tengah, maka dengan dukungan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu: Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Citarum sebagai batas.
Kerajaan Sunda Galuh

Tarusbawa (670 – 723 M) Maharaja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota kerajaan yang baru, di daerah pedalaman dekat hulu Cipakancilan. Dalam cerita Parahiyangan, tokoh Tarusbawa ini hanya disebut dengan gelarnya: Tohaan di Sunda (Raja Sunda). Ia menjadi cikalbakal raja-raja Sunda dan memerintah sampai tahun 723 M. Karena putera mahkota wafat mendahului Tarusbawa, maka anak wanita dari putera mahkota (bernama Tejakancana) diangkat sebagai anak dan ahli waris kerajaan.Suami puteri inilah yang dalam tahun 723 menggantikan Tarusbawa menjadi Raja Sunda.
Sanjaya / Rakeyan Jamri / Prabu Harisdama (723 – 732M) Cicit Wretikandayun ini bernama Rakeyan Jamri. Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya. Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Ratu Shima dari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa/Sena/Sanna, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M).
Sena pada tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh Purbasora.

 Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara / Kerajaan Sunda.Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkan Purbasora. Setelah itu ia menjadi Raja Kerajaan Sunda Galuh. Sebagai ahli waris Kalingga, Sanjaya kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi MATARAM dalam tahun 732 M. Dengan kata lain, Sanjaya adalah penguasa Sunda, Galuh dan Kalingga / Kerajaan MataramKuno. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan atau Rakeyan Panaraban.
Tamperan Barmawijaya / Rakeyan Panaraban (732 - 739 M) Ia adalah kakak seayah Rakai Panangkaran, Raja Kerajaan Mataram (Hindu) ke 2, putera Sanjaya dari Sudiwara puteri Dewasinga 
Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara.


Sumber Wikipedia
Silahkan di koreksi