Kamis, 06 Agustus 2020

DUA DINASTY SANJAYA DAN DINASTI SAYLENDRA MENYATU



  ~Rakai Pikatan alias Mpu Manuku adalah trah (keturunan Dinasti Sanjaya) yang memerintah dari tahun 838 hingga tahun 855 Masehi. Menurut pendapat De Casparis beliau adalah putra dari Rakai Garung yang bernama Dang Karayan Patapan Sida Busu Pelar (Prasasti Gandasuli tahun 832 Masehi), Rakai Garung ini adalah seorang Raja bawahan Raja Kerajaan Mataram Kuna di zaman Raja Smaratungga (Prasasti Kayumwungan).   Rakai Garung telah menghadiahkan beberapa desa dalam kekuasaannya sebagai sima swatantra dengan tujuan untuk ikut merawat Candi Jinalaya atau Borobudur. Oleh Samaratungga, Rakai Pikatan di nikahkan dengan putrinya yang bernama Pramodawardhani. Keduanya berasal dari Dinasti yang berbeda, satu trah Dinasti Sanjaya (Rakai Pikatan) satunya lagi dari trah Dinasti Syailendra (Pramodawardhani),  Dengan jadinya Rakai Pikatan dan Pramodawardhani menjadi Raja Mataram Kuna selepas lengsernya Samaratungga, dimana mereka bahu membahu memerintah secara bersama-sama, Hal inilah yang membangkitkan kembali Dinasti Sanjaya yang sekian lama terpuruk menjadi Raja bawahan Dinasti Syailendra, sejak Dharanindra dan Smaratungga memerintah di Kerajaan Mataram Kuna.

Rakai Pikatan Mpu Manuku adalah raja keenam Kerajaan Medang menurut prasasti Mantyasih bagian B.Berdasarkan daftar raja yang tertulis dalam Prasasti Mantyasih (907 M) Terdapat sembilan penguasa Kerajaan Mataram Kuno sampai masa Rakai Watu Kura Dyah Balitung. Diawali

Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya,
Sri Maharaja Rakai Panangkaran,
Sri Maharaja Panunggalan,
Sri Maharaja Rakai Warak,
Sri Maharaja Rakai Garung,
Sri Maharaja Rakai Pikatan,
Sri Maharaja Rakai Kayuwangi,
Sri Maharaja Rakai Watuhumalang. Terakhir adalah raja yang menulis prasastinya, Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung.

Sementara berdasarkan Prasasti Wanua Tengah III, ada 13 raja yang pernah berkuasa di Mataram Kuno sebelum Balitung. Disebutkan
Rakai Panangkaran naik takhta pada 746 M. Tiga puluh delapan tahun kemudian (784 M), dia digantikan Rakai Panaraban.
Pada 803 M, rajanya berganti Rakai Warak Dyah Manara yang menjabat 24 tahun.
Pada 827 M penggantinya Dyah Gula hanya bertahan tiga tahun.
Pada 829 M, Rakai Garung menggantikannya. Delapan belas tahun kemudian, Rakai Pikatan Dyah Saladu naik ke singgasana pada 847 M.
Rake Kayuwangi Dyah Lokapala bertakhta delapan tahun kemudian pada 855 M. Dia bertahan selama 30 tahun untuk kemudian diganti Dyah Tagwas pada 885 M.

Berdasarkan informasi prasasti itu, Dyah Tagwas hanya berkuasa tujuh bulan kemudian tersusir (kādəh) dari istana. Dia digantikan Rake Panumwangan Dyah Dawendra yang hanya sanggup mempertahankan kedudukannya dua tahun.
 Pada 887 M, Rake Gurunwangi Dyah Bhadra menggantikannya. Tak sampai sebulan kekuasaannya berakhir. Setelah itu, selama kurang lebih tujuh tahun Mataram tak ada yang memimpin. Baru pada 894 M, Rakai Wungkalhumalang Dyah Jəban bertakhta selama empat tahun. Pada 898 M, Rakai Watukura Dyah Balitung gantian dimahkotai.

  Dari prasasti Wantil diketahui bahwa Rakai Pikatan menganut agama Hindu Siwa dan menikah dengan seorang putri beragama Buddha. Mayoritas sejarawan sepakat bahwa putri tersebut adalah Pramodawardhani. Prasasti Kayumwungan tahun 824 hanya menyebut nama Pramodawardhani dan Samaratungga tanpa menyebut nama Mpu Manuku. Dapat diperkirakan bahwa pada tahun itu Pramodawardhani dan Mpu Manuku belum menikah.

Sementara itu pada prasasti Munduan tahun 807 Mpu Manuku sudah menjabat sebagai Rakai Patapan, padahal pada tahun 824 Pramodawardhani masih menjadi gadis. Ini berarti di antara keduanya terdapat perbedaan usia yang cukup jauh. Mungkin usia Rakai Pikatan Mpu Manuku sebaya dengan mertuanya, yaitu Samaratungga. Dari perkawinan Rakai Pikatan dengan Pramodawardhani diperkirakan lahir Rakai Gurunwangi Dyah Saladu (prasasti Plaosan) dan Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (prasasti Wantil). Berkat jasanya dalam menumpas musuh negara bernama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni, Rakai Kayuwangi pun bisa menjadi raja sesudah Rakai Pikatan.

Nama Pramodawardhani ditemukan dalam prasasti Kayumwungan tanggal 26 Maret 824 sebagai putri Maharaja Samaratungga. Menurut prasasti itu, ia meresmikan sebuah bangunan Jinalaya bertingkat-tingkat yang sangat indah. Bangunan ini umumnya ditafsirkan sebagai Candi Borobudur. Sementara itu, prasasti Tri Tepusan tanggal 11 November 842 menyebutkan adanya tokoh bergelar Sri Kahulunan yang membebaskan pajak beberapa desa agar penduduknya ikut serta merawat Kamulan Bhumisambhara (nama asli Candi Borobudur). Sejarawan Dr. De Casparis menafsirkan istilah Sri Kahulunan dengan “permaisuri”, yaitu Pramodawardhani, karena pada saat itu Rakai Pikatan diperkirakan sudah menjadi raja.





Prasasti Wantil juga menyinggung perkawinan Sang Jatiningrat alias Rakai Pikatan Mpu Manuku dengan seorang putri beragama lain. Para sejarawan sepakat bahwa putri itu ialah Pramodawardhani dari Wangsa Sailendra yang beragama Buddha Mahayana, sementara Mpu Manuku sendiri memeluk agama Hindu Siwa. Pramodawardhani adalah putri Samaratungga yang namanya tercatat dalam prasasti Kayumwungan tahun 824. Saat itu yang menjabat sebagai Rakai Patapan adalah Mpu Palar, sedangkan nama Mpu Manuku sama sekali tidak disebut. Mungkin saat itu Pramodawardhani belum menjadi istri Mpu Manuku.

   Rakai Pikatan terdapat dalam daftar para raja versi prasasti Mantyasih. Nama aslinya menurut prasasti Argapura adalah Mpu Manuku. Pada prasasti Munduan tahun 807 diketahui Mpu Manuku menjabat sebagai Rakai Patapan. Kemudian pada prasasti Kayumwungan tahun 824 jabatan Rakai Patapan dipegang oleh Mpu Palar. Mungkin saat itu Mpu Manuku sudah pindah jabatan menjadi Rakai Pikatan. Akan tetapi, pada prasasti Tulang Air tahun 850 Mpu Manuku kembali bergelar Rakai Patapan. Sedangkan menurut prasasti Gondosuli, Mpu Palar telah meninggal sebelum tahun 832. Kiranya daerah Patapan kembali menjadi tanggung jawab Mpu Manuku, meskipun saat itu ia sudah menjadi maharaja. Tradisi seperti ini memang berlaku dalam sejarah Kerajaan Medang di mana seorang raja mencantumkan pula gelar lamanya sebagai kepala daerah, misalnya Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung. Menurut prasasti Wantil, Mpu Manuku membangun ibu kota baru di desa Mamrati sehingga ia pun dijuluki sebagai Rakai Mamrati. Istana baru itu bernama Mamratipura, sebagai pengganti ibu kota yang lama, yaitu Mataram. Prasasti Wantil juga menyebutkan bahwa Rakai Mamrati turun takhta dan menjadi brahmana bergelar Sang Jatiningrat pada tahun 856M,

Kurang tepat apabila Rakai Kayuwangi disebut sebagai raja Kerajaan Mataram karena menurut prasasti Wantil, saat itu istana Kerajaan Medang tidak lagi berada di daerah Mataram, melainkan sudah dipindahkan oleh Rakai Pikatan (raja sebelumnya) ke daerah Mamrati, dan diberi nama Mamratipura. Rakai Kayuwangi adalah putra bungsu Rakai Pikatan yang lahir dari permaisuri Pramodawardhani. Nama aslinya adalah Dyah Lokapala (prasasti Wantil) atau Mpu Lokapala (prasasti Argapura). Menurut prasasti Wantil atau prasasti Siwagerha tanggal 12 November 856, Dyah Lokapala naik takhta menggantikan ayahnya, yaitu Sang Jatiningrat (gelar Rakai Pikatan sebagai brahmana). Pengangkatan putra bungsu sebagai raja ini didasarkan pada jasa kepahlawanan Dyah Lokapala dalam menumpas musuh ayahnya, yang bermarkas di timbunan batu di atas bukit Ratu Baka. Teori populer menyebut nama musuh tersebut adalah Balaputradewa karena pada prasasti Wantil terdapat istilah walaputra. Namun, sejarawan Buchari tidak menjumpai prasasti atas nama Balaputradewa pada situs bukit Ratu Baka, melainkan atas nama Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni. Adapun makna istilah walaputra adalah “putra bungsu”, yaitu julukan untuk Dyah Lokapala yang berhasil menumpas musuh ayahnya tersebut.

Jadi, pada akhir pemerintahan Rakai Pikatan terjadi pemberontakan Rakai Walaing Mpu Kumbhayoni yang mengaku sebagai keturunan pendiri kerajaan (Sanjaya). Pemberontakan tersebut berhasil ditumpas oleh Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala alias Sang Walaputra, sehingga ia mendapat dukungan rakyat untuk naik takhta menggantikan ayahnya. Teori pemberontakan Rakai Walaing ini telah membantah teori populer tentang adanya perang saudara antara Balaputradewa melawan Pramodawardhani dan Rakai Pikatan sepeninggal Samarottungga Menurut daftar para raja Kerajaan Medang dalam prasasti Mantyasih, Rakai Watuhumalang menjadi raja kedelapan menggantikan Rakai Kayuwangi. Prasasti tersebut dikeluarkan tahun 907 oleh Dyah Balitung, yaitu raja sesudah Rakai Watuhumalang. Rakai Watuhumalang sendiri tidak meninggalkan prasasti atas nama dirinya. Sementara itu prasasti Panunggalan tanggal 19 November 896 menyebut adanya tokoh bernama Sang Watuhumalang Mpu Teguh, namun tidak bergelar maharaja, melainkan hanya bergelar haji (raja bawahan). Tidak dapat dipastikan apakah Mpu Teguh identik dengan Rakai Watuhumalang. Apabila keduanya benar-benar tokoh yang sama, maka dapat dibayangkan bahwa masa pemerintahan Rakai Watuhumalamg sangat singkat. Pada tahun 896 ia masih menjadi raja bawahan, sedangkan pada tahun 899 (prasasti Telahap) yang menjadi raja sudah bernama Dyah Balitung.

Analisis para sejarawan, misalnya Boechari atau Poerbatjaraka, menyebutkan bahwa Dyah Balitung berhasil naik takhta karena menikahi putri raja sebelumnya. Kemungkinan besar raja tersebut adalah Rakai Watuhumalang yang menurut prasasti Mantyasih memerintah sebelum Balitung. Mungkin alasan Dyah Balitung bisa naik takhta bukan hanya itu, mengingat raja sebelumnya ternyata juga memiliki putra bernama Mpu Daksa (prasasti Telahap). Alasan lain yang menunjang ialah keadaan Kerajaan Medang sepeninggal Rakai Kayuwangi mengalami perpecahan, yaitu dengan ditemukannya prasasti Munggu Antan atas nama Maharaja Rakai Gurunwangi dan prasasti Poh Dulur atas nama Rakai Limus Dyah Dewendra.

Jadi, kemungkinan besar Dyah Balitung yang merupakan menantu Rakai Watuhumalang (raja Medang pengganti Rakai Kayuwangi) berhasil menjadi pahlawan dengan menaklukkan Rakai Gurunwangi dan Rakai Limus sehingga kembali mengakui kekuasaan tunggal di Kerajaan Medang. Maka, sepeninggal Rakai Watuhumalang, rakyat pun memilih Balitung sebagai raja daripada iparnya, yaitu Mpu Daksa Mpu Daksa naik takhta menggantikan Dyah Balitung yang merupakan saudara iparnya. Hubungan kekerabatan ini berdasarkan bukti bahwa Daksa sering disebut namanya bersamaan dengan istri Balitung dalam beberapa prasasti. Selain itu juga diperkuat dengan analisis sejarawan Boechari terhadap berita Tiongkok dari Dinasti Tang berbunyi Tat So Kan Hiung, yang artinya “Daksa, saudara raja yang gagah berani”. Dyah Balitung diperkirakan naik takhta karena menikahi putri raja sebelumnya, sehingga secara otomatis Mpu Daksa pun disebut sebagai putra raja tersebut. Kemungkinan besar raja itu ialah Rakai Watuhumalang yang memerintah sebelum Balitung menurut prasasti Mantyasih.

Menurut prasasti Telahap, Mpu Daksa adalah cucu dari Rakryan Watan Mpu Tamer, yang merupakan seorang istri raja yang dimakamkan di Pastika, yaitu Rakai Pikatan. Dengan demikian, Daksa dapat disebut sebagai cucu dari Rakai Pikatan. Prasasti Plaosan yang dikeluarkan oleh Rakai Pikatan juga menyebut adanya tokoh bernama Sang Kalungwarak Mpu Daksa. Dyah Tulodong dianggap naik takhta menggantikan Mpu Daksa. Dalam prasasti Ritihang yang dikeluarkan oleh Mpu Daksa terdapat tokoh Rakryan Layang namun nama aslinya tidak terbaca. Ditinjau dari ciri-cirinya, tokoh Rakryan Layang ini seorang wanita berkedudukan tinggi, jadi tidak mungkin sama dengan Dyah Tulodhong. Mungkin Rakryan Layang adalah anak perempuan Mpu Daksa. Dyah Tulodong berhasil menikahinya sehingga ia pun ikut mendapatkan gelar Rakai Layang, bahkan naik takhta menggantikan mertuanya, yaitu Mpu Daksa.

  Dalam prasasti Lintakan Dyah Tulodong disebut sebagai putri dari seseorang yang dimakamkan di Turu Mangambil. Nama "Layang" sekarang mulai dikaitkan dengan keberadaan Situs Liyangan, berdasarkan kemiripan nama. Dyah Wawa naik takhta menggantikan Dyah Tulodhong. Nama Rakai Sumba tercatat dalam prasasti Culanggi tanggal 7 Maret 927, menjabat sebagai Sang Pamgat Momahumah, yaitu semacam pegawai pengadilan. Selain bergelar Rakai Sumba, Dyah Wawa juga bergelar Rakai Pangkaja, Mpu Sindok pada masa pemerintahan Dyah Tulodhong menjabat sebagai Rakai Mahamantri Halu, sedangkan pada masa pemerintahan Dyah Wawa, naik pangkat menjadi Rakai Mahamantri Hino. 


Karena memang putra mahkota medang tampilnya maha mentri hino mpu sendok sebagai maha raja medang menganti kedudukan rakai sumba dyah wawa secara hukum agama dan negara pada saat itu adalah sah. Dan seluruh rakyat dan pemukau agama mendukung penobatanya mpu sendok membangun keraton baru di tamwlang (tembelang) kemudian pindah ke watugaluh (megaluh) yang berada di jombang pada prasasti watugaluh tahun 929M, denggan tegas mpu sendok menyebut kerajaannya sebagai penerus medang bhumi mataram yang berpusat kerajaan di watugaluh dalam satu sisi mpu sendok mengakui penerus kerajaan medang bhumi mataram dan saut sisi mpu sendok memutuskan hubungan darah kekeluargaan dengan wangsa sanjaya yang di tandai dengan membangun wangsa baru isanawangsa sebagai mana yang terkandung nama gelar kerajaannya setelah kemenangannya melawan penyerangan dari tentara sriwijaya malayu sumtra


Di kutib dari berbagai sumber 
di tulis dhimas danan jaya 

Rabu, 05 Agustus 2020

PRASASTI SARANGAN





 Prasasti Sarangan berangka tahun 851 Saka (929 M) yang beraksara huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti yang terbuat dari batu ini menjadi koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.14 Prasasti ini ditemukan di daerah Mojokerto, Jawa Timur, yang isinya menceriterakan tentang Desa Sarangan sebagi sima oleh Raja Rakai Hino Pu Sindok pada thun 851 Saka. ***
              
Om awighnam astu. /o/ Swasti Sakawarsatita 851 srawanamasa titi dwadasi krisnapaksa Wa Po Bu wara.

pusyanaksara dewadewata siwayoga

Irika diwasa ny anugraha sri maharaja rake hino mpu sindok sri isyanawikrama dharmotunggadewa umingsor i samgat momahumah kalih madander mpu padma anggehan mpu kundala ri tan katamana. .. .. .. .. .. .. .. .. sarangan watek bawang . . . . . . . . . . .

Tahun Saka 851 Bulan Srawana Tanggal 12 Paruh gelap

Hari Uwas Pon Budha/Rabu

05 Agustus 929 Masehi

Sumber : L Ch Damais 55

Wuku Madangkungan

Cara Penguasa Jawa Mengelola Air

Sementara sistem irigasi dibangun di kali Pikatan yang mengalir dari lereng-lereng gunung Welirang ke arah barat laut dan bermuara di kali Brangkal, salah satu anak sungai Brantas. Keterangan itu termaktub dalam Prasasti Sarangan yang berasal dari pemerintahan Mpu Sindok, raja pertama kerajaan Medang, pada 929.

Perempuan Penguasa Masa Mataram Kuno

Adapun *Rakryan Anakbi* dan *Samgat Anakbi* diperkirakan pejabat perempuan karena kata *anakbi* bisa berarti istri atau perempuan. *Rakryan Anakbi *dijumpai di antara deretan para *rakai* dan *Samgat Sarangan *dalam Prasasti Sarangan (851 saka atau 929 M). Namanya tidak jelas karena bagian prasasti yang menyebutnya telah aus. *Samgat Anakbi Dyah Pendel *disebut dalam Prasasti Hring (851 saka).

“Dari gelar *samgat* yang dicantumkan pada namanya, dia tentu seorang pejabat keagamaan atau kehakiman,” tulis Ninie Susanti.

*Samgat *dan *rakai* merupakan jabatan bagi penguasa daerah. Jabatan ini biasa digunakan pada masa Mataram Kuno sampai Kadiri*. *Mereka membawahi daerah lungguhnya atau yang pada masa lalu disebut *watak *atau *wisaya.*

Prasasti Sarangan berangka tahun 851 Saka (929 M) yang beraksara huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasasti yang terbuat dari batu ini menjadi koleksi Museum Nasional dengan No. Inventaris D.14


Hasil Terjemahan Bebas Prasasti Dari Masa Rakai Watu Kura Dyah Balitung




Prasasti Ayam Těas I (JTG822) (Boechari, 1986: 137)

1. swasti śakawarṣātita 822 punaḥ posyamāsa tithi aṣṭami śuklapaksa.
ha.

2. ka. wṛ. wāra. tatkāla ajña śrī maharāja rake watukura dyaḥ
dharmodaya māhasambhu

3. tumurun i rakryānnmapatiḥ i hino pu bāhubajra pratipakṣakṣaya rake
halu pu

4. saŋgrāmanurānddhara. rake sirikan pu samarawikranta. rake wka pu
bhāswara. rake pagar wsi

5. pu wīrawikrama rake bawaŋ pu maŋlawan samgat tiruan pu śiwāstra.
maŋhuri pu cakra

6. wadihatī pu ḍapit makudur pu sāmwrada. Kumonnakan soāra niŋ
wanua sīmai aya

7. m těas hiŋhiŋṅana ikanaŋ masamwyawahāra anuŋ tan knā de saŋ
maṅilala nra

8. wyahaji tluŋ tuhān iŋ sasambyawahāra iŋ sa sīma.

Terjemahan bebas:
 ~Selamat! Tahun Saka yang telah berlalu 822 tahun bulan Posya
tanggal 8 paro terang (pada) hari Haryang (Paringkelan) Kaliwuan (pasaran) dan hari Kamis menurut perhitungan 7 hari. Ketika perintah Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Dharmodaya
Mahasambhu turun kepada Rakryan Mahapatih I Hino (bernama) Pu Bahubajra Pratipaksaksaya, Rake Halu (bernama) Pu Sanggramadurandhara, Rake Sirikan bernama Pu Samarawikranta, Rake Wka (bernama) Pu Bhaswara, Rake Pagerwsi bernama Pu Wirawikrama, Rake Bawang bernama Pu Manglawan, Samgat Tiruan bernama Pu Siwastra, Manghuri bernama Pu Cakra. Wadihati bernama Pu Dapit, Makudur bernama Pu Samwrda
memerintahkan seluruh desa sima di (wilayah) Ayam Teas agar diberi batas-batas semua orang yang berdagang di sana yang tidak dimasuki oleh segala macam manilala drawya Haji (jumlahnya dibatasi) tiga tuhaan (untuk setiap) usaha dagangnya dalam satu sima.

Inti dari prasasti Ayam Teas adalah mengenai pembebasan pajak
terhadap para pedangan di Ayam Teas yang jumlah dagangannya dibawah
ambang batas yang ditentukan oleh raja.

ii. Prasasti Luitan (JTG823) (Nastiti, 1982: 12)

1. swasti śakawarṣātīta 823 caitra māsa tithi daśami kṛṣṇapakṣa. wā. ka.wṛ. wāra. śathabhisa nakṣatra. indra yoga. tatkāla . . . anak wanua i
luītan watak kapuŋ manamwaḥ i ra

2. kryān mapatiḥ i hino umajarakan parṇaḥ nikanaŋ sawaḥ kmitanya tan
wnaŋ maṅisī uddhāra. saŋkā ri höt nikanaŋ sinaṅguḥ satampaḥ
kinonakanya ukuran de rakryān mapatiḥ

3. muaŋ rakryān i pagarwsi. anuŋ kinon maṅukura saŋ wahuta hyaŋ
kudur muaŋ rowaŋ rakryān i pagarwsi. suṅguh pua ya an mahöt ikana
tampaḥnya tan wnaŋ manisī ta ru

4. a tŋah iŋ satampaḥ muaŋ tan wnaŋnya makaṭik 6 inaṭaan sambaḥ
nikanaŋ rāma masawaha lamwit 1 tampaḥ 7 muaŋ makatika 4 apan
samaṅkana kirakiranya sampun i

Terjemahan bebas:
 Selamat! Telah lewat tahun saka 823 tahun, bulan Caitra tanggal 10 paro terang, pada hari Was (paringkelan), Kaliwuan (pasaran), dan Hari Kamis, bintang: Sathabisa, yoga: Indra. Pada waktu itu  penduduk Desa Luitan yang termasuk wilayah Kapung Berdatangan sembah kepada Rakryan Mahapatih I Hino, mengadukan bahwa sawah yang dikerjakan tidak sanggup memenuhi bagian, karena sempitnya yang dianggap satu tampah. (Maka) diperintahkan supaya diukur kembali oleh Rakryan Maha patih i Hino dan Rakryan I Pagarwsi. Yang diberi tugas mengukur (kembali) adalah sang wahuta hyang kudur dan pembantu dari Rakryan Pagarwsi. Sesungguhnyalah bahwa sempit tampahnya tidak dapat memenuhi satu setengah setiap satu tampahnya, dan tidak sanggup mempunyai enam budak. Maka dikabulkan permohonan dari kepala desa itu untuk mengerjakan sawah 1 lamwit 7 tampah, dan dapat mempunyai empat budak. Karena memang demikianlah perkiraannya setelah diukur kembali.

Inti prasasti
Prasasti Luitan berisi mengenai warga Desa Luitan yang mengajukan permohonan keringanan pajak kepada penguasa karena merasa bahwa lahan mereka terlalu kecil untuk dikenai pajak. Setelah dilakukan pengukuran ulang lahan milik warga Desa Luitan, maka permohonan keringanan pajak tersebut dikabulkan oleh penguasa.

iii. Prasasti Rumwiga II (YKT827) (Suhadi, 1983: 39-47)

1. swasti śakawarṣātīta 827 śrawaṇa māsa tithi pratipāda śuklapakṣa pa
u śu wāra aśleṣa nakṣatra wariyān yoga ta

2. tkāla nikanaŋ rāma ni rumwiga watak rumwiga mapuluŋ tandas muaŋ
pinakānak kabaiḥ manamwaḥ i samgat mo

3. maḥ umaḥ mamrati pu uttara muaŋ rakryān wuŋkal tihaŋ pu
wirawikrama rakryān ri hino mahāmantrī srī dakṣottama bāhuba

4. jrapratipakṣakṣaya maminta inanugrahān mapasaŋ gunuṅan pirak kā
4 muaŋ piliḥ masnya sāmas ri saŋ tahil satahun ku

5. . . .
6. . . .
7. . . .
8. . . .
Barus ke lima sampai ke delapan dalam prasasti ini sudah aus dan tidak bisa di baca

9. . . . maŋkana parṇaḥha nikanaŋ wanwa i rumwiga sinamwahakanya i
rakryā

10. n mahāmantrī jari samwaḥ nikanaŋ rāma sinanmata saŋkā ri
parikṣīṇanya . . .

Terjemahan bebas:
 Selamat tahun saka yang telah berlalu 827 tahun, pada bulan Srawana tanggal 1 paroterang, paniruan, umanis, Sukra, kedudukan bintang bintangnya Aslesa, Yoganya Wariyan. Itulah saatnya ketika tetua desa dari wilayah Rumwiga bermusyawarah dengan mereka yang dianggap sebagai warga desa, kemudian menghadap kepada samgat momah umah, Mamrati bernama Pu Uttara dan Rakryan Wungkal Tihang Pu Wirawikrama, Rakryan ri Hino Mahamantri Sri Daksottama Bahuba jra Pratipaksaksaya, memohon agar diberi anugerah mapasang gunungan dengan biaya sebanyak perak 4 kati, serta pilihan masnya
samas 400 kepada sang tahlil setiap tahun

baris ke lima sampai ke delapan prasasti sudah aus dan tidak bisa di baca

Demikianlah seharusnya pengaturan pajak bagi penduduk rumwiga yang dimohonkan kepada Rakryan Mahamantri. Tentang permohonan majelis telah disetujui karena
kemundurannya lalu diteguhkan anugrah Rakryan Mahamantri

Inti prasasti:
Dalam Prasasti Rumwiga, tercantum mengenai keberatan warga desa Rumwiga terhadap pajak yang dibebankan kepada desa. Setelah dilakukan investigasi oleh pihak kerajaan, ditemukan bahwa pejabat pajak yang bertugas atas desa Rumwiga melakukan penyelewengan dengan membebankan pajak yang lebih besar dari yang seharusnya untuk
kepentingannya sendiri. Setelah investigasi, pajak yang dibebankan kepada desa Rumwiga diatur sedemikian rupa sehingga lebih ringan dan sesuai dengan yang seharusnya dibayarkan.

iv. Prasasti Kubu-kubu (JTM827) (Boechari, 1986: 155)
I.a

1. swasti śakawarṣātīta 827 kartika māsa tithi pratipāda kṛṣṇapakṣa. ma.
ka. wṛ. wāra. wariga. tātkala daputa mañjala. muaŋ saŋ maŋha

2. mbin saŋ diha. saŋ dipha. dapu hyaŋ rupin. sumusuk iki tgal i kubu kubu bhadrī simai rakryān hujuŋ dyaḥ maṅarak. mwaŋ rakryān matu

3. ha rěkai majawutan . .
IV.a

4. … ge ā nyāmbak rakryān hujuŋ mwaŋ rěka maja

5. wuntin. an dinulu sira maŋṅdona mare bantan. de sang mapatiḥ. alaḥ
pwa ikaŋ bantan de nira. nāhan mataŋ nyār arpanaḍahakěnya
IV.b

1. anugraha i śrī mahārāja . . .

Terjemahan Bebas
I.a

 Selamat tahun saka yang telah berlalu 827 tahun, hari kamis kliwon paringkelan Mawulu, Wuku Wariga tanggal satu paro gelap bulan Karttika, ketika Dapunta manjala dan sang Mangha mbin Sang Diha, Sang Dhipa dan Dapu Hyang Rupin membatasi tegalan yang ada di kubukubu sebagai sima bagi Rakryan Hujung Dyah Mangarak dan Rakryan Matu ha Rakai Majawutan . .
IV.a
 … senanglah hati Rakryan Hujung dan Rakai Maja wuntin melihat penyerangan ke Bantan oleh Sang Mahapatih. Kalahlah daerah Bantan olehnya. Itulah sebabnya kemudian
diturunkannya IV.b anugrah oleh Sri Maharaja . . .

Inti prasasti:
Prasasti Kubu-kubu berisi tentang pemberian anugerah kepada Rakryan Hujung dan Rakai Maja atas jasa besarnya menaklukkan wilayah Bantan untuk kemudian dianeksasi kedalam wilayah kerajaan Mataram Kuno (Mdang).

Prasasti Palepangan  

1. swasti śakawarṣātīta 828 punah śrawaṇa masa. tithi aṣṭami
kṛṣṇapakṣa v. Prasasti. ha. wa. śu. wāra. irikā diwasa rāmanta i palěpaṅan
makabehan. i

2. nanugrahan wineḥ makmitana prasasti de rakryān mapatiḥ i hino pu
dakṣottama bāhubajrapratipakṣakṣaya. samwandhanya saŋkā i tan
patut nikanaŋ

3. rāma lawan saŋ nayaka bhagawanta jyotista ikanaŋ sawaḥnya
sinaṅguh lamwit 2 kinon ta ya modharā. pirak dhā 6 i satampaḥ
satampaḥ. kunaŋ saŋka ri

4. hötnya tan wnaṅ modhāra samaṅka ya ta mataṅyan panamwaḥ
rāmanta i rakryān mapatiḥ kinonakan sawaḥnya ukuran iŋ tampaḥ
haji. sinaṅguh

Terjemahan bebas:
 Selamat tahun saka yang telah berlalu 828 tahun, bulan … tanggal 8 paroterang, paringkelan Haryang, pasaran Wage, hari Jumat. Pada saat itu para rama (kepala desa) di Palepangan mendapat anugrah penetapan dengan prasasti dari Rakryan Mahapatih i Hino Pu Daksottama Bahubajrapratipaksaksaya. Adapun sebabnya karena para rama tidak setuju terhadap sang Nayakan Bhagawanta Jyotisa bahwa sawahnya dihitung 2 lamwit luasnya dan dikenai pajak 6 dharana uang perak setiap tampah. Karena sempitnya maka para rama 4. tidak sanggup membayar pajak. Para rama menghadap kepada Rakryan Mahapatih, dan diperintahkan agar sawahnya diukur dengan tampah haji

Inti prasasti:

 Sambandha dari Prasasti Palepangan adalah mengenai sengketa pajak antara warga Desa Palepangan dengan Nayaka yang bertugas memungut pajak di wilayah tersebut. Dalam prasasti tersebut tertulis bahwa terjadi peristiwa pengukuran ulang tanah milik warga Desa
Palengan. Dari pengukuran ulang tersebut, warga desa akhirnya mendapat anugerah berupa keringanan pajak karena memang terjadi penyimpangan dalam pengukuran pajak sebelumnya.


vi. Prasasti Mantyasih I (JTG829a) (Stutterheim, 1927: 175-183)

1. swasti śakawarṣātīta 829 caitra māsa. tithi ekādaśi kṛṣṇapakṣa. tu. u.
śa. wāra. purwwabhadrawāda nakṣatra. ajamāda dewatā. indra yoga.
tatkāla ājña śrī mahārāja rakai watukura dyaḥ balituŋ śrī dha

2. rmmodaya mahāsambhu. umiŋsor i rakarayān mapatiḥ i hino. halu.
sirikan. wka. halaran. tiruan. palarhyaŋ. maŋhuri. wadihati. makudur.
kumonnakan nikanaŋ wanua i mantyāsiḥ winiḥ ni sawaḥnya satu.
muaŋ a

3. lasnya i muṇḍuan. i kayu pañjaŋ. muaŋ pomahan iŋ kuniŋ wanua
kagunturan pasawahanya ri wunut kwaiḥ ni winiḥnya satu hamat 18
hop sawaḥ kanayakān. muaŋ alasnya i susuṇḍara. i wukir sumwiŋ.
kapua wa

4. tak patapān. sinusuk sīmā kapatihana. paknānya pagantyagantyana
nikanaŋ patiḥ mantyāsiḥ sānak lawasnya tluŋ tahun sowaŋ. kwaiḥ
nikanaŋ patiḥ sapuṇḍuḥ pu sna rama ni ananta. Pu kolā rama ni diṇī.
pu puñjěŋ

5. rama ni udal. pu karā rama ni labdha. pu sudraka rama ni kayut piṇḍa
prāṇa 5 maṅkana kwaiḥ nikanaŋ patiḥ inanugrahān muaŋ kinon ta ya
matuta sānak // samwandhanyan inanugrahān saŋkā yan makwaiḥ
buatthaji

6. iniwönnya i śrī mahārāja. kāla ni waraṅan haji. lain saṅke kapujān
bhaṭāra i malaŋkuśeśwara. iŋ puteśwara. i kutusan. i śilābhedeśwara. i
tuleśwara. iŋ pratiwarṣa. muaŋ saŋka yaŋ antarālika kataku

7. tan ikanaŋ wanua iŋ kuniŋ. sinarabhārānta ikanaŋ patiḥ rumakṣā
ikanaŋ hawān. nahan mataunyan inanugrahān nikanaŋ wanua kālih
irikanaŋ patiḥ . . .

Terjemahan bebas: .

 Selamat tahun saka yang telah berlalu 829 tahun hari sabtu legi, paringkelan Tunglai, tanggal 11 paro gelap bulan Caitra, Naksatranya Purwwabhadrawada, dewatanya Ajapada, Yoganya Indra, ketika perintah Sri maharaja Rakai Watukura Dyah balitung Sri Dharmmodaya Mahasambhu, turun kepada Rakryan Mahapatih i Hino, Halu, Sirikan, Wka, Halaran, Tiruan. Palarhyang, Manghuri, Wadihati, Makudur, yang memerintahkan agar desa di Mantyasih yang benih sawahnya sebanyak tu, dan hutannya di Munduan, di Kayu Panjang, dan di perumahannya di Kuning Desa Kagunturan, persawahannya di Wunut yang benihnya sebanyak sat utu, 18 hamat termasuk sawah milik Nayaka, serta hutannya di Gunung Sindoro, di Gunung Sumbing semuannya masuk wilayah Patapan, dibatasi menjadi sima bagi para Patih, dimaksudkan untuk digunakan bergantian oleh Patih di Mantyasih dan keluarganya masing-masing tiga tahun lamanya. Banyaknya patih yang barkaitan yaitu Pu Sana rama (kepala desa) dari Ananta, Pu Kola rama dari Dini, Pu Punjeng rama dari Udal,Pu Kara rama dari Labdha, Pu Sudraka Rama dari Kayut jumlahnya 5 orang, demikianlah banyaknya Patih yang dianugerahi dan disuruhlah ia menyertakan keluarganya. Alasannya dianugerahi karena mereka banyak melakukan buatthaji sebagai kecintaan kepada Sri Maharaja ketika pesta pernikahan raja, selain itu juga melakukan pemujaan kepada Bhatara di Malangkuseswara, di Puteswara, di Kutusan, di Silabhedeswara, di Tuleswara, setiap tahun dan karena ada perubahan menjadi rasa ketakutan penduduk desa di Desa Kuning, Patih itu dipercayai menjaga jalan, itulah sebabnya kedua desa tersebut dianugerahkan kepada Patih.

Inti prasasti:
Inti dari Prasasti Mantyasih adalah pemberian anugerah kepada para patih yang memiliki jasa besar kepada kerajaan. Para patih-patih tersebut mendapat anugrah dan tanah perdikan yang berada di wilayah Matyasih, sekitar lereng gunung Sindoro dan Sumbing.

vii. Prasasti Guntur (JTG829b) (Brandes, 1913: 35)

1. swasti śakawarṣātīta 829 śrawaṇa māsa tithi dwādaśi śukla. ma. po.
bu. wāra tatkāla ni pu tabwěl

2. anagbanua iŋ guntur punpananiŋ wihāra garuŋ pinariccheda
guṇadoṣa nira de samggat pinapan

3. pu gawul muaŋ saŋ anakabwi pu gallam wanua i puluwatu.
sambandha nikaŋ guṇadoṣa. hana saŋ dharma ṅara

4. nya bapa ni maŋhaping saŋkāri wurakuŋ ya ta tumagiḥ pu tabwěl
tinagihakanya mas su 1, nda tan hutaŋ

5. pu tabwěl ya hutaŋ sang anakbwi. Makaṅaran si campa. wuaŋ sānak
saŋ dharma. pajjaḥ pua si campa. tinagih

6. ta pu tabwěl de saŋ dharma. ndā tan hanānak ni pu tabwěl muaŋ si
campa. ṅuṅiweh yar wruha rikaŋ hutaŋ ya

7. ta mataŋyan tka ri samagat pinapan ndā tan tka saŋ dharma rikaŋ
pasamayān ya mataŋyan inalaha

8. ka ta ya de samagat pinapan

Terjemahan bebas:
 Selamat tahun saka yang telah berlalu 829 tahun, pada hari Rabu Pon, paringkelan Mawulu, tanggal 12 paroterang bulan Srawanga ketika Pu Tabwel penduduk desa Guntur milik bangunan suci di Garung diperkarakan oleh Samgat Pinapan yang bernama Pu Gawul dan istrinya bernama Pu Gallan dari Desa Puluwatu, sebabnya ia diperkarakan, karena Sang Dharma namanya bapak dari Manghapig dari Desa Wurakung yaitu menagih kepada Pu Tabwel hutangnya sebesar 1 suwarna uang emas. Pu Tabwel tidak mempunyai hutang, hutang itu hutang istrinya yang bernama Si Campa, kepada saudaranya Sang Dharmma. Si Campa kemudian meninggal  ditagihlah Pu Tabwel oleh Sang Dharma, apalagi Pu Tabwel tidak mempunyai anak dengan Si Campa, lebih-lebih ia tidak mengetahui mengenai hutang istrinya, itulah sebabnya datang tuntutan dari Samgat Pinapan. Dalam persidangan Sang Dharma tidak hadir, itulah sebabnya ia dikalahkan oleh Samgat Pinapan

Inti prasasti:
Inti dari Prasasti Guntur adalah mengenai sengketa utang piutang antara Pu Tabwel dengan Sang Dharma. Dalam prasasti ini juga dijelaskan bahwa sengketa tersebut diproses melalui pengadilan kerajaan yang akhirnya dimenangkan oleh Pu Tabwel.

viii. Prasasti Rukam (JTG829c) (Nastiti, 1982: 74)

1. swasti śakawarṣātīta 829 kārttika māsa tithi daśami śuklapakṣa. ma.
pa. so. wāra satabhiṣa nakṣatra baruṇa dewata wṛddhi yoga. tatkāla
ajña śrī mahārāja rake watukura dyaḥ balituŋ śrī dharmmodaya
mahāsambhu miŋ

2. sor i māhamantrī śrī dakṣottama bāhubajra pratipakṣakṣaya
kumonnakan ikanaŋ wanua i rukam wanua i dro saŋkā yan hilaŋ de
niŋ guntur sīmān rakryān sañjīwana nini haji manasīa i dharmma nira
i limwuŋ muaŋ pagawa

3. yana kamulān paṅguḥhannya pirak dhā 5 pilih mas mā 5 marā i
parhyaṅan i limwuŋ buñcaŋ hajya nya umiwia ikanaŋ kamulān
samahala ya sarabhāra i ri ya riŋ samahala kabaih parṇnaḥhannya…

Terjemahan bebas:
 Selamat tahun saka yang telah berjalan 829 tahun, bulan karttikam tanggal 10 paro terang, pada hari:Paringkelan Mawulu, Pahing. Hari senin, bintang Satabhisa, dibawah naungan: dewa Baruna, Yoga: Wrddhi. Pada waktu itu perintah Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung Sri Dharmmodaya Mahasambhu turun kepada Rakryan Mahamantri Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksaksaya, memerintahkan agar desa Rukam yang termasuk wilayah kutagara atau negeri ageng, yang telah hancur (diterjang Guntur) dijadikan daerah perdikan bagi neneknya yaitu Rakryan Sanjiwana. Dan hendaknya dipersembahkan kepada dharmmanya (Rakryan Sanjiwana) di Limwung dan hendaknya membuat kamulan (di Rukam). Pendapatan 5 dharana perak dan 5 masa pilih mas, diberikan pada parhyangan yang terletak di Limwung sebagai buncang hajinya adalah kewajiban memelihara kamulan.
Kemudian seluruh petani di desa Rukam memohon perlindungan kepadanya terhadap orang-orang yang semula sering mengganggu keamanan di daerah itu . . .

Inti prasasti:
Inti dari Prasasti Rukam adalah mengenai pembangunan kembali Desa Rukam sebagai sebuah desa dan tempat suci setelah sebelumnya hancur diterjang Guntur (lahar gunung api). Di Desa Rukam ini juga dibangun sebuah bangunan suci untuk menghormati Rakryan Sanjiwana, nenek dari raja.

ix. Prasasti Kinwu (JTM829) (Brandes, 1913: 65)

1. swasti śakawarṣātīta 829 mārgasira māsa tithi dwā

2. daśi śuklapakṣa ha was śu wara bharaṇī nakṣatra siddha yoga yama
dewata

3. tatkāla nikanaŋ rāma i kinwu watak raṇḍaman inanugrahān de śrī
mahārāja

4. watukura dyaḥ balituŋ śrī iśwara keśawasamoratuŋga muaŋ
mahāmantri śrī dakṣo

5. ttama wajrabāhupratipakṣakṣaya sambandhanyan inanugrahān mula
sawaḥ katajyanan kmi

6. takan nikanaŋ rāma lamwit 6 tampaḥ 3 kaḍik 28 gawai 8 kunaŋ
saŋkari durbbala nikanaŋ ramā

7. i kinwu tan wnaŋ umijilakan drawya haji nikaŋ samaŋkana jarīya
manambah i rakryān ni randaman pu8. wāma mamalaku maŋlebiha sawaḥ tlas wyayanya tumama mās pagěh
ka 3 su 1 … ha

9. ḍaṅang i māsuya su 1 maparaḥ i saŋ juru mas su 2 kinabaihan nira
pjaḥ pwa rakryān ni raṇḍaman lumāh i

10. tambla tapwan linapih sawah nikanaŋ rāma jarīya maṅabarat
manamākan ya mās ka 5 i śrī mahārāja mwaŋ ra

11. kryān mahāmantri muaŋ rakryangta gaŋsal wuŋkal tihaŋ wka sirikan
kaluŋ watak tiru raṇu ḍumata

12. ṅakan sambaḥnya samgat momahumaḥ i pamrata puttara muaŋ saŋ
pratyaya i raṇḍaman rake hampran

13. muaŋ pu watabwaŋ rowaŋ rakryān pañjiwasa pamilihan muaŋ saŋ
dumba nāhan kwaih nira dumataṅṅakan ṣambaḥ rā

14. manta i kinwu yā ta sambandhanyanninanugrahān mawasaha lambit 6
katik 12 gawai ma 6 tatra

Terjemahan bebas:
 Selamat tahun saka yang telah berlalu 829 tahun, hari jumat Wage, paringkelan Haryang, tanggal 12 paro terang  Bulan Margasira, Naksatranya Bharani, Yoganya Siddha, Dewanya Yama  ketika kepala Desa Kinwu yang masuk wilayah Randaman dianugerahi oleh Sri Maharaja  Watukura Dyah Balitung Sri Iswara Kesawasamoratungga dan Mahamantri Sri Daksottama Wajrabahupratipaksaksaya alasan penganugerahan mula sawah katjanan yang di lindungi oleh kepala desa seluas 6 lamwit, 3 tampah, 28 katik, gawai karena menyebabkan kesulitan bagi kepala desa di Kinwu tidak bisa membayar pajak karena menghadap kepada
rakryan di Randaman yaitu Pu  Wama mamalaku manglebiha sawah tlas wyayanya tumama mas ketetapan 3 kati dan 1 suwarna seekor kerbau, 1 suwarna diberikan kepada sang juru semuannya suwarna emas, matilah Rakryan di Randaman diistirahatkan di tambla tapwan di sebelah tanah milik rama jariya manabarat leluhurnya, 5 kati emas kepada Sri Maharaja dan Rakryan Mahamantri dan Rakryan berlima yaitu Wungkal Tihang, Wka, Sirikan, Kalungwara, Tirurangu kedatangannya menghadap ke Samgat Momahumah di Pamrata yaitu Pu Uttara dan Sang Pataya di Randaman yaitu Rake Hamparan dan Pu Watabwang wakilnya Rakryan Panjiwasa Pamilihan dan Sang Dumba kemudian banyaknya yang datang menghadap yaitu kepala desa di Kinwu, itulah alasan ia dianugerahi masawaha lambit, 12 katik, 6 gawai

Inti prasasti:
Isi dari prasasti kinwu adalah mengenai pembebasan pajak kepada para warga Desa Kinwu oleh Sri maharaja. Pembebasan pajak dilakukan karena warga Desa Kinwu dirasa kurang mampu untuk membayar pajak yang cukup tinggi

x. Prasasti Wanua Tengah (JTG830) (Dharmosoetopo, 2003: 205)

8. …. iŋ śaka 830 asuji māsa padmanābha de

9. watā. tithi daśami śuklapaksa tuŋ pa wṛ. wāra. karmmeśa dewa.
wālawa karaṇa. uttarapādha nakṣatra. wiśwa dewa. śukla yoga
karmuka lagna. yama deśa. irikā diwasa nikanaŋ sawaḥ sīma i pikatan
ninuwahakan i saŋ hyaŋ wihāra i pikatan. anuŋ kinon śrī mahārāja
muaŋ rakryān mahāmantrī umuwaha

10. kan ikanaŋ sawaḥ i wihāra i pikatan rakryān limwa yan dyaḥ guna
muaŋ ḍaṅacāryya iŋ tuk dhāneśwara umyāpāra ta susukana nikanaŋ
wuŋkal

Terjemahan bebas:
Sayang dalam prasasti ini mulai baris ke satu sampai dengan baris ke tujuh tidak bisa di baca dengan seutuhnya yang hanya bisa di baca mulai dari baris ke delapan sampai ke sepuluh,,.

…. Pada tahun saka 830 bulan asuji, Padmanabha dewata, tanggal 10 paro terang, hari Kamis Pahing Tunglai, Karmmesa dewa. Walawa Karana, Uttarapada naksatra. Wiswadewa sukla yoga, Karmuka lagna, Yama desa, adalah saat sawah sima di Pikatan diberikan kepada sang hyang wihara di Pikatan. Adapun yang diperintah oleh Sri maharaja dan Rkryan Mahamantri memberikan sawah tersebut kepada bihara di Pikatan adalah Rakryan Limwayan Dyah Guna dan Dang Acaryya di Tuk bernama Dhaneswara dengan mengusahakan batu batasnya.

Inti prasasti:
Inti dari prasasti wanua tengah adalah pembangunan kembali dan pemberian anugrah terhadap bangunan suci di wanua tengah. Raja juga menyebutkan bahwa para pendahulunya juga melakukan hal yang sama untuk mengkukuhkan diri di singgasana.

C. Kenaikan Tahta Sang Balitung
1. Proses Kenaikan Tahta
Berdasarkan dari isi prasasti Wanua Tengah setidaknya dari masa Raja Panangkaran sampai Raja Balitung ada 12 Raja yang berkuasa dan 11 kali proses suksesi (Panangkaran, Panaraban, Warak, Dyah Gula, Garung, Pikatan, Kayuwangi, Dyah Tagwas, Panumwangan, Gurunwangi, Watu Humalang, Balitung). Fokus dari penelitian ini adalah proses suksesi pada masa pemerintahan Balitung, sehingga yang akan menjadi sorotan utama adalah proses suksesi dari Watu Humalang kepada Balitung. Tertulis dalam prasasti Wanua Tengah (Boechari, 2012: 484-491):

pjah rāke wungkal humālaŋ. iŋ śaka 820 jyeṣta māsa tithi pratipāda kṛṣṇa.
tu po bu, wara. irikān paŋdiri sri mahārāja rake watukura dyaḥ balituŋ śrī
iśwarakeśawotuŋgarudramurti. mahāmantrinira rakryān i hino śrī
daksottama bāhubajra pratipakṣakṣaya wisnumurti

Terjemahan bebas:
Setelah meninggalnya Rakai Wungkal (Watu) Humalang. Di tahun 820 saka bulan jyesta paro gelap hari tunglai pon. Disanalah berkuasa sang Sri Maharaja Rake Watukura dyah Balitung Sri iswarakesawotunggarudramurti dengan Mahamentri Rakryan i Hino Sri Daksottama Bahubajra Pratipaksaksaya Wisnumurti. Dari kutipan isi prasasti diatas diketahui bahwa Raja Balitung naik tahta menggantikan Raja Wungkal (Watu) Humalang pada tahun 820 saka atau tahun 898 Masehi, tanggal 10 Mei dengan gelar abhiseka (gelar penobatan raja) Śrī Mahārāja Rake Watukura Dyaḥ Balituŋ Śrī Iśwarakeśawotuŋgarudramurti. Raja Balitung naik tahta setelah Raja Watu Humalang meninggal dunia (pjahrāke wungkal humalaŋ).
Kebiasaan di Kerajaan Mataram Kuno setiap putra mahkota akan mendapatkan suatu gelar khusus yaitu gelar i Hino, bisa dikatakan bahwa Raja Balitung bukan merupakan seorang putra mahkota karena tidak terdapat gelar tersebut dalam gelar abhisekanya. Untuk alasan mengapa Raja Balitung dipilih oleh Watu Humalang sebagai penggantinya meskipun saat itu sudah ada putra mahkota yang bernama Rakryan i Hino Daksottama, perlu dilihat lagi beberapa baris isi prasasti Wanua Tengah berikut ini (Boechari, 2012: 484-491):

pjah rāke kayuwaŋi. iŋ śaka 806 maghā māsa caturdasi kṛṣṇa. ṭung po bu.
wara. maŋdiri dyah tagwas . . . . kaděh dyaḥ tagwas riŋ kadatwan.
iŋ śaka 807 aśuji māsa pancami kṛṣṇa pakṣa. pa pa bu. wara. maŋdiri rāke
panumwaŋan dyaḥ dewendrā . . . . kaděh rāke panumwaŋan iŋ kadaṭwan.
i śaka 808 maghā māsa. pancāmi kṛṣṇa. wa po bu. wara. maŋdiri rāke
gurunwaŋi dyaḥ bhādra. miŋgat rāke gurunwaŋi.
iŋ śaka 816 marggāsira māsa pancāmi kṛṣṇa. tu pa bu. wara. maŋdiri rāke
wuŋkal humalaŋ dyah jbaŋ.

Terjemahan bebas:
 Meninggal Rake Kayuwangi. Pada tahun 806 Saka (diikuti unsur penanggalan) berkuasalah Dyah Tagwas . . . kemudian Dyah Tagwas terusir dari kedaton (kadatwan/ pusat kerajaan). Pada tahun 807 Saka (diikuti unsur penanggalan) berkuasalah rake panumwangan dyah dewendra . . . . kemudian Rake Panumwangan terusir dari kedaton. Pada tahun 808 Saka (diikuti unsur penanggalan) berkuasalah Rake Gurunwangi Dyah Bhadra. Kemudian Rake Gurunwangi mengasingkan diri (minggat) Pada tahun 816 Saka (diikuti unsur penanggalan) berkuasalah Rake Wungkal (Watu) Humalang Dyah Jbang. Sepeninggalan Raja Kayuwangi terjadi 3 kali pergantian kekuasaan dengan masa pemerintahan yang sangat pendek yang disebabkan oleh hal yang tidak wajar. Pertama Raja Dyah Tagwas (806) terusir dari kedaton, kemudian digantikan Raja Panumwangan (807) yang juga terusir dari kedaton, dan Raja Gurunwangi (808) yang mengasingkan diri setahun setelah naik tahta. Baru kemudian setelah tahun 816 Raja Watu Humalang naik tahta dan memerintah secara normal. Setelah Raja Kayuwangi meninggal sangat mungkin terjadi perebutan kekuasaan diantara penerus-penerusnya, jika dilihat dari kondisi para raja yang terusir maupun melarikan diri. Antara tahun 809 saat Raja Gurunwangi mengasingkan diri hingga Raja Watu Humalang naik tahta di tahun 816, kemungkinan terjadi kekosongan kekuasaan di Kerajaan Mataram Kuno yang menyebabkan kekacauan di kerajaan. Dalam proses naik tahtanya Raja Watu Humalang pada 816 terdapat andil yang cukup besar dari Raja Balitung. Pendapat dari para ahli adalah Raja Balitunglah yang membantu Raja Watu Humalang mendapatkan tahta dan menstabilkan kondisi kerajaan. Dugaan sementara ini, karena jasanya yang besar itulah Balitung diangkat sebagai pengganti Raja Watu Humalang. Sebagai penguat argumen tersebut, dalam prasasti Wanua Tengah tertulis bahwa Raja Balitung naik tahta secara “paŋdiri” sedangkan raja-raja sebelumnya mulai dari Dyah Tagwas sampai Watu Humalang naik tahta secara “maŋdiri”. Perbedaan dua kata tersebut adalah jika secara “maŋdiri” raja menyatakan dirinya sebagai penguasa, maka jika secara “paŋdiri” sang raja dinyatakan sebagai penguasa. Raja Balitung telah dipilih oleh Raja Watu Humalang sebagai suksesornya yang tentunya sebagai balasan atas jasanya.

2. Pernikahan Sebagai Upaya Legitimasi
Dalam prasasti mantyasih (disebutkan bahwa 5 orang patih, yaitu: Pu Sana, Pu Kola, Pu Punjeng, Pu Kara, dan Pu Sudraka mendapatkan penghargaan karena mereka telah banyak membantu kegiatan pernikahan raja. Seperti tertulis dalam baris ke 5 dan 6 prasasti mantyasih (Purnamasari, 2012: 15):

“samwandhanyan inanugrahān saŋkā yan makwaiḥ buatthaji iniwönnya i śrī
mahārāja. kāla ni waraṅan haji.”

Terjemahan bebas:
“Alasan mereka dianugerahi karena mereka banyak melakukan titah raja (buatthaji) untuk raja sebagai kecintaan kepada Sri Maharaja ketika diadakan pesta pernikahan raja (waraṅan haji)”. Pesta “waraṅan haji” ini dianggap sebagai suatu kegiatan yang sangat sakral dan penting, sehingga patih yang membantu terselenggaranya pesta ini di berikan anugerah yang cukup besar dari Sri Maharaja (Purnamasari, 2012: 4).
Pesta yang sangat penting tersebut diduga merupakan pesta pernikahan Raja Balitung dengan Putri dari Raja Watu Humalang. Tentunya pernikahan tersebut menjadi sangat penting karena memang diperlukan supaya Raja Balitung mendapat pengakuan dari rakyat. Dengan menikahi putri dari Raja Watu Humalang, Raja Balitung akan dipandang sah untuk mendapatkan tahta Kerajaan Mataram Kuno karena sudah menjadi salah satu bagian dari keluarga Raja Watu Humalang. Namun hingga saat ini belum ada kejelasan apakah Raja
Balitung “dinikahkan” oleh Raja Watu Humalang atau Raja Balitung “mempersunting” Putri Raja Watu Humalang. Namun jika dilihat dari kata “warangan” sendiri yang lebih diartikan kepada “menikahkan”, maka kemungkinan terbesar adalah Raja Watu Humalang lah yang menikahkan Raja Balitung dengan putrinya. Fakta tersebut kembali memperkuat argumen bahwa memang Raja Watu Humalang memang memilih dan “menyiapkan” Sang Raja Balitung untuk menjadi penggantinya kelak setelah meninggal. Argumen tentang pernikahan Raja Balitung dengan putri Raja Watu Humalang juga diperkuat dengan isi Prasasti Telahap yang menyatakan bahwa permaisuri dari Raja Balitung adalah cucu dari raja yang di dharmakan di Pastika yang diduga kuat sebagai Rakai Pikatan (Muljana, 2005: 27). Dugaan saat ini Raja Watu Humalang merupakan salah seorang putra Rakai Pikatan yang berasal dari selir (mengingat bahwa Rakai Pikatan lebih memilih Rakai Kayuwangi sebagai penggantinya).

Di kutib dari balai arkeologi jakarta dan jogja